<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234</id><updated>2011-11-27T16:10:29.053-08:00</updated><category term='Riset Kritis'/><category term='LogikaFormal'/><category term='Link'/><category term='Teori Marxis'/><category term='Filsafat Pergerakan'/><category term='Pendidikan Populer'/><title type='text'>Pendidikan Populer dan Teori klasik</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-2075750347407494912</id><published>2011-07-17T11:23:00.001-07:00</published><updated>2011-07-17T11:23:23.412-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LogikaFormal'/><title type='text'>Isi Material dan Realitas Obyektif dari Hukum Hukum Ini</title><content type='html'>Kalian dapat lihat dari contoh ini bagaimana cepatnya dan spontaninatsnya karakter dialektis dari benda benda dan pikiran pikiran dari suatu pemahaman kritis dari pemikiran formal. Disamp¬ing tujuan tujuan baik menekankan pandangan saya&amp;nbsp; terhadap logika formal, kalian akan meneliti bahwa saya&amp;nbsp; membuat langkah&amp;nbsp; kepada batasan batasan dari logika itu momen yang aku inginkan mendap-tkan kebenaran dari benda benda.&amp;nbsp; Sekarang mari kita kembali kepada daerah logika formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyatakan sebelum para ahli dialetika moderen&amp;nbsp; tak membantah semua kebenaran terhadap hukum logika formal. Semacam suatu sikap akan berbalik&amp;nbsp; kepada ruh dialektika yang melihat beberapa&amp;nbsp; elemen ari kebenaran dalam semua penilaian. Pada saat yang sama dialektika membuat kita bisa mendeteksi pembatasan pembatasan dan kesalhan kesalahan dalam memformulasikan pemikiran tentang benda benda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum logika formal berisi elemen yang terbantahkan dan penting dari kebenaran. Mereka merupakan generalisasi generalisa¬si,bukan ide ide murni yang digabung dari&amp;nbsp; entah dimana dan tiada. Mereka tidak dibentuk atas proses pemikiran dan atas dunia nyata oleh Aristoteles dan para pengikutnya dan lalu membudak meniru selam ratusan tahun sesudhnya. Milyaran orangtak pernah mendengar tentang Aristoteles atau pikiran tentang logika berpi¬kir dan masih berpikir dalam kepatuhan kepada hukum yang ia formulakan pertama. Dalam seperti gaya semua tubuh jatuh paling tidak menurut hukum gerak Newton meskipun, kecuali bagi tubuh manusia, mereka tak memahami teori teorinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang berpi¬kir dan benda benda bertindak&amp;nbsp; dalam dunia obyektif sejlan dengan generalisasi generalisasi teoritis dari Aristoteles dan Newton? Karena alam esensial dari realitas&amp;nbsp; membuat mereka&amp;nbsp; berpikir dan bertindak demikian. Hukum hukum pemikiran Aristoteles memilki banyak&amp;nbsp; isi material dan sebanyak suatu basis&amp;nbsp; dalam dunia obyek¬tif sebgaimnana hukum hukum gerak mekanis Newton."... metode pemikiran kita baik formal maupun dialektika,, bukan konstruksi arbitrer&amp;nbsp; dari rasio kita namun cenderung ekspresi dari antar hubungan nyata dalam alam itu sendiri." (Trotsky, In Defense of Marxism, hlm. 84.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik realitas material apa yang direfleksikan dan direproduksi secara konseptual dalam hukum hukum pemikiran for¬mal?&lt;br /&gt;Hukum identitas merumuskan fakta fakta material yang memba¬tasi benda benda, kwalitas khusus benda benda, melanjutkan dan mengutamkan kesamaan yang dapat dikenal diantara semua perubahan perubahan fenomenal mereka. Dimanapun kontinyuitas yang esensial berada dalam realitas, hukum identitas dapat diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak bisa bertindak ataupun berpikir secara benar tanpa secara sadar dan tidak sadar mematuhi hukum ini. Bila kita tidak bisa mengenal diri kita sendiri&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagai orang yang sama dari momen ke momen dari hari ke hari&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan ada orang orang yang tak bisa, yang lewat amnesia atau gangguan mental yang lain kehilan¬gan kesadaran identias diri mereka&amp;nbsp;&amp;nbsp; kita akan hilang. namun hukum identitas tak kurang rasional bagi dunia daripada untuk kesadaran manusia.&amp;nbsp; Ia diterapkan setiap hari dan di mana saja bagi kehidupan sosial. Bila kita tidak dapat menal bagian yang sama dari metal lewat aneka ragam operasi, kita tak bisa menda¬patkan begitu jauh dengan produksi. Bila seorang petani tak bisa mengikuti jagung yang ia rawat dari kecil hingga besar dan kemu¬dian sewaktu makan, pertanian tak akan mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil mengambil suaaatu langkah besar dalam memahami alam dunia ketika berhasil memahami untuk pertamakalinya kenya¬taan bahwa sang bunda mnyuapinya merupakan orang yang sama leawat aneka ragam tindakan menyuapi. Pengenalan kebenaranini tak lain adalah kemampuan khusu pengenalan hukum identitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita tak bisa bilang apakan suatu kondisi pekerja lewat semua perubahannya, kita dapat dengan mudah keluar dari jalur yang benar dddalam lingkaran lingkaran rumit dari perjuangan kleas kontemporer. Kenyataannya, kaum oposisi borjuis kecil salah dalm melihat masalah Rusia, bukan hanya menentang dialetika, namunterutama karena mereka tidak bisa secara benar menrapkan hukum identitas dalam proses perkembangan Uni Soviet. Mereka tak melihat itu, disamping segala perubahan&amp;nbsp; dalam USSR dihasilkan oleh degenarari dibawah rejim politik Stalinis, Uni Soviet memil¬ki fondasi ekonomi dari kondisi pekerja yang diciptakan oleh kaum buruh dan Tani lewat Revolusi Oktober.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi yang benar, muncul dari perbandingan kemirippan dan ketidakmiripan, adalah basis yang perlu dan tahap pertama dalri semua penelitian ilmiah. Klasifikasi dan, penempatan benda benda dalam klas klas yang sama dan pemisahan dari benda benda yang lain dan pengelompokkan dalam klsa klas yang berbeda, tak akan mungkin tanpa hukum identitias. Teori revolusi organi bera¬sal dalam dan bergantung&amp;nbsp; pada pengenalan dari identias esensial dari semua makhluk yang berbeda di bumi ini. Hukum gerak mekanis&amp;nbsp; Newton berasal dari&amp;nbsp; suatu kepala tunggal&amp;nbsp; semua gerakan gerakan masa, dari batu yang jatuh ke planet planet yang berutar dalam sistem solar. Semua ilmu sebagaimana semua tindakan yang cerdas bersandar didalam&amp;nbsp; sebagian atas hukum identitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum identitas mengarahkan kita mengenal kemiripan diantara perbedaan, permanen diantara perubahan perubahan, menyatukan kemiripan kemiripan dasar diantara bentuk bentuk yang berbeda&amp;nbsp; dan terpisah dengan nyata, membuka ikataikatan nyata dari keatuan antara mereka, melacak hubungan0hubungan&amp;nbsp; antara fase fase yang berbeda dan ikut dalam tatanan rapi tetap ari fenomena yang sama. Itulah mengapa penemua dan peningkatan hukum ini begitu hebat dialam sejarah pemikran ilmiah dan mengapa kita tetap menghargai Aristoteles bagipemahaman siknifikansi kekhususannya. Itu juga mengapa umat manusia terus bertindak dan berpikir menurut hukum dasar logika formal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang begita khas dialam hukum identitas ini?" Kalian bisa bertanya. Iaa berkata tak lebih daripada fakta fakta yang jelas bahwa "suatu benda adalah benda ," atau "ini adalah ini." &lt;br /&gt;Sebaliknya hukum ini tidak begitu membuktikan&amp;nbsp; ataupun&amp;nbsp; begitu kecil seperti yang tampak pada sisi pertama. Adalah sangat penting bahwa hukum yang momentum&amp;nbsp; secara tepat dinilai dan siknifikansi historis dri penemuannya di pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu kemjuan besar dalam pengetahuan dunia ketika manusia menemukan bahwa awan, uap, hujan, es semuanya adalah air atau bahwa surga dan dunia sampai sekarang diyakini sebagai subtansi yang berlawanan dan berbeda adakbenar benar satu dan sama. Ilmu biologi berevolusi dengan penemuan bahwa semua tingakt makhluk hidup antara organisme satu sel dan manusia terdiri dari subtansi yang sama. Ilmu fisika&amp;nbsp; berevolusi dengan demontrasi bahwa semua bentuk gerakan material dapat berubah ke dalam suatu yang alin dan hadi secara esensial identik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah langkah yang menakjubkan kemajuan dalam pemahaman sosial dan poitis ketika seorang pekerja menemukan pada satu sisi bahwa seorang pekerja upahan apadalah seorng pekerja upahan, dan di lain sisi bahwa kapitalis adalah kapitalis? Dan bahwa dimana mana memilki kepentingan klas yang sama dan mengatasi semua batas batas pabrik, nasional dan ras. Jadi suaatu pengena¬lan dari kkebenaran tercakup didalam hukum identitas adalah suatu syarat yang perlu untuk menjadi seorang soaialis revolusioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu hal, bagaimanapun, mematuhi suatu hukum dan menggunakannya dan begitu suatu hal yang berbeda meahami dan merumuskan nya dalam suatu yang ilmiah. Setiap orang makan sesuai hukuk fisiologis tertentu, namun mereka tidak tahu hukum digesi apa&amp;nbsp; dan bagaimana mereka bekerja. Adalah sama dengan hkum logi¬ka. Setiap orang berpikir, namun tak semua orang tahu hukum apa yang mengatur aktivitas pemirannya. adalah warisan gemilang Aristoteles bahwa ia membuat dengan eksplisit dan mengekspresi¬kannya dalam istilah istilah logis hukum identitas ini yang mengalir lewat proses pikiran kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum kontradiksi merumuskan kenyataan material yang memban¬tu keberadaan benda benda dan macam macam benda, atau keadaan dari benda yang sama yang bertalian, berbeda dari dan saling meniadakan. Nyatalah saya bukan jenis yang sama dari manusia seperti kalian; saya benar benar berbeda. Juga saya bukan orang yang sama dari saya yang kemarin; saya berbeda. Uni Soviet tidak¬lah sama dengan negara negara yang lain, tidak juga sama dengan nya 20 tahun yang lalu. Ia berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum formal dari kontradiksi, atau melihat perbedaan, adalah perlu bagi klasifikasi sebagaimana hukum identitas. Di samping itu, tanpa keberadaan dari perbedaan perbedaan tak akan ada kebutuhan bagi klasifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum formal dari pengggabungan memperlihatkan kenyataan bahwa benda benda saling bertentangan dan meniadakan yang saling bergantung di dalam realitas. Saya selain adalah sya sendiri&amp;nbsp; juga orang yang lain; hari ini saya sama atau berbeda&amp;nbsp; dari saya yang kemarin. Uni Soviet sama atau berbeda dari negara negara yagn lain; tidaklah bisa keduanya di dalam waktu yang sama. SAya seorang manusia aaatau binatang; saya tak bisa keduanya secara simultan dan dalam arti yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi hukum logika formal memperlihatkan gambaran yang mewai¬li dunia nyata. Mereka memilki suatu isi material dan suatu basisi obyektif. Mereka pada suatu dan waktu yang sama hukum berpikir, dari masyarakat, dan dari alam. Tiga hukum ini memberi¬kannya suatu karakter universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hukum itu kita konsentrasikan&amp;nbsp; pada bukan perwujudan seluruh logika formal. Mereka secara sederhana&amp;nbsp; membentuk dasar dasarnya. Pada basis ini dan darinya muncul suatu struktur kom¬pleks dari ilmu logika yang teruji dengan cermat elemen elemen dan mekanisme mekanisme dari bentuk bentuk berpikir. Namun kita harus tidak masuk kedlam&amp;nbsp; suatu diskusi aneka ragam kategori kategori, bentuk bentuk preposisi, pendapat pendapat, silogisme, dsb, yang menentukan isi tubuh dari logika formal. Ini dapat di temukan dalam tiap buku logika dasar tidak cocok dengan tujuan kita kini. Kita secara prinsipil memperhatikan pemahaman ide ide esnsial dari logika formal, bukan perkembangan detelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;div class="flockcredit" style="text-align: right; color: #CCC; font-size: x-small;"&gt;Blogged with the &lt;a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color: #999; font-weight: bold;" target="_new" title="Flock Browser"&gt;Flock Browser&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-2075750347407494912?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/2075750347407494912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2011/07/isi-material-dan-realitas-obyektif-dari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/2075750347407494912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/2075750347407494912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2011/07/isi-material-dan-realitas-obyektif-dari.html' title='Isi Material dan Realitas Obyektif dari Hukum Hukum Ini'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-779742138192415543</id><published>2011-07-17T08:59:00.001-07:00</published><updated>2011-07-17T08:59:37.862-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LogikaFormal'/><title type='text'>Tiga Hukum Dasar dari Logika Formal</title><content type='html'>Ada tifa hukum fundamental dari logika formal. Pertama dan yang paling penting adalah Hukum identitas. Hukum ini bisa nyata¬kan dalm berbagai cara seperti: Suatu benda selalu sama atau identik dengan dirinya. dalam istilah aljabar: A sama dengan A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulasi khusus dari hukum ini tak begitu penting sewaktu ide terlibat. Pemikran asensual tecakup dalam hukum identitias. Mengatakan bahwa suatu benda selalu sama terhadap dirinya adalah sama juga menilai bahwa dibawag semua kondidi ia tetap satu dan sama. Suatu benda yang ada berada secara absolut pada setiap momen yang ada. Seperti ahli fisis katakan: "Materi tak bisa diciptakan dan dihancurkan," contohnya, materi selalu menjadi materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian yang tak kondisional i dari hukukm identitas absolut dari suatu benda dengan dirinya sendiri menimbulkan perbedaan dari sesnsi benda benda dan pikiran. Bila suatu benda selalu dan dalam semua kondisi sama arau identik dengan dirinya, tak pernah bisa tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan ini&amp;nbsp; mengambil secra logis dan tak terhindarkan dari hukum iden¬titas. Bila A selalu sama dengan A, tak bisa pernah sama dengan non A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan ini dibuat eksplisit dalam hukum kedua dari logika formal : Hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan: A adalah bukan non A. Ini tak lebih dari formulasi negatif dari penilaian positif yang dinyakan dalam yang pertama hukum logika formal. Bila A adalah A, berikutnya, menurut pemiran formal, bahwa A tak bisa menjadi non A. Jadi Hukum logika formal kedua, hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial bagi hukum yang pertama.&lt;br /&gt;Beberapa contoh: seorang manusia tak bisa menjadi bukan manusia; Demokrasi tak bisa menjadi tidak demokrasi; seorang buruh tak bisa menjadi seorang buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hukum kontradiksi menyiratkan hasil perbedaan dari esensi benda benda dan pikiran tentang benda benda. Bila&amp;nbsp; A selalu perlu identik dengan dirinya, tak bisa berbeda dari dirinya. Perbedaan dan persamaam adalah, menurut dua aturan logika ini, berbeda sekali, benar benar tak berhubungan, karakter ekslusif saling menunjang dari baik benda benda maupun pikiran pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kwalitas ekslusif saling menunjang dari benda benda&amp;nbsp; hukum pertukaran nilai nilai persamaan membentuk fondasi dari masyara¬kat pemroduksi komoditi.&lt;br /&gt;Ijinkan saku menempatkan suatu contoh menarik dari jenis pemikiran ini berasal dari tulisan tulisan Aristoteles. di dalam Posterior Abalytics (Buku I; bab 33, hal, 158), Aristoteles berkata bahwa seorang tak bisa secara simultan memahaminya, bahwa manusia secara esensial adalah binatang&amp;nbsp; and kedua, bahwa manusia secara esensial bukan binatang, itulah, meungkin menganggap bahwa dia lain daripada binatang. Begitulah, seorang manusia secara esensial soerang manusia dan tak pernah bisa atau berpikir trak menjadi seorang manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pasti tentulah&amp;nbsp; menurut&amp;nbsp; diktat dari hukum logika for¬mal. Kini kita semua tahu ternyata bertentangan dengan fakta. Teori evolusi alam mengajarkan bahwa&amp;nbsp; manusia secara esensial adalah binatang dan tak bisa lain daripada binatang. Secara logis berbicara, manusia adalah seekor binatang. Namun kita tahu juga dari teori evousi sosial, yang merupakan kelanjutan dan perkem¬bangan dari evolusi binatan g secara murni, bahwa manusia tak lebih dari&amp;nbsp; dan lain dari seoerkor binatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dia secara esensial bukan seekor binatang melainkan manusia, yang merupakan spesies mkhluk hidup yang sangat berbed dari semua binatang lainnya. Kitam dan kita tahu bahwa kita, dua benda ekslusif yang saling bergantung pada satu dan saat yang sma, Aristoteles dan hukump hukum secara ekspresif adalah catatan yang diambil dari dalam hukum ketiga dari logika formal. Ini adalah hukum pertengahan khusus. Menurut hukum ini, setiap benda adalaj dam pasti juga salah satu dari dua benda benda ekslusif. Bila A sama dengan A,&amp;nbsp; ia tak bisa sama dengan non A. A tak bisa jadi bagain dari dua klas yang berlawanan pada satu atau saat yang sama. Dimana saja dua pernyataan yang saling belrlawanan atau hubungan bermusuhan satu sama lain, baik itu mungkin benar atau juga salah. A adalah juga B atau ia bukan B. Kebenatran dari suatu pendapat&amp;nbsp; meniratkan keidakbenaran kebalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum ketiga ini adalah suatu kombinasi dari dua pertama dan mengalir secara logis dari mereka.Ketiga hukum ini&amp;nbsp; merupakan basis dari logika formal. Semua jawabanjawaban formal dihasilkan dari aturan dari proposisi proposisi ini. Selama dua ratus tahun mereka&amp;nbsp; merupakan aksioma tak terbantahkan dari sistim pikiran&amp;nbsp; Aristoteles, hanya sebagai&lt;br /&gt;logika formal sebaliknya tak kokoh berdiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;div class="flockcredit" style="text-align: right; color: #CCC; font-size: x-small;"&gt;Blogged with the &lt;a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color: #999; font-weight: bold;" target="_new" title="Flock Browser"&gt;Flock Browser&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-779742138192415543?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/779742138192415543/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2011/07/tiga-hukum-dasar-dari-logika-formal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/779742138192415543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/779742138192415543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2011/07/tiga-hukum-dasar-dari-logika-formal.html' title='Tiga Hukum Dasar dari Logika Formal'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-2955482468078944872</id><published>2011-07-17T08:55:00.001-07:00</published><updated>2011-07-17T08:55:32.259-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LogikaFormal'/><title type='text'>LOGIKA FORMAL &amp; DIALEKTIKA</title><content type='html'>Pelajaran ini sejalan dengan ide ide dialektika materialis¬me, logika marxisme.Terkejutkah anda betapa istimewanya proyek ini?&amp;nbsp; Inilah para anggota dan simpatisan sebuah partai politik yang revolusioner di bawah ancaman pemrintah dalam PD II, perang terbesar di dalam sejarah dunia. Kaum pekerja ini, kaum revolusioner profesional ini, bersama sama, bukan mendiskusikan soal soal dan memutuskan ukuran ukuran perlunya aksi aksi segera, tapi bagi tujuan mengka¬ji suatu ilmu yang nampaknya sebanding dengan matematika yang lebih tinggi berasal dari perjuangan politik sehari hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kontras dengan gambaran harapan dari gerakan marxis digambarkan terbelenggu oleh tangan kapitalis! Klas pemilik menggambarkan kaum sosialis revolusioner sebagai individu individu gila yang membohongi diri dan yang lainnya dengan pandangan pandangan fantastik dari suatu dunia pekerja. Kaum penguasa kapitalis&amp;nbsp; seperti kanak kanak yang tak bisa menggambar sebuah gambar dunia dimana mereka tidak ada dan dimana mereka&amp;nbsp; bukan figur sentral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengklaim dipandu oleh logika dan akal sehat. Sekar¬ang saatnya ini dunia&amp;nbsp; mengambil satu pandangan untuk menentukan siapa yang irasional dan siapa yang berakal sehat : kaum kapita¬lis atau kaum penentang mereka yang revolusioner. Monarki masyar¬akat jaman ini mengamuk dan bertingkah laku seperti orang gila. Mereka menjbloskan dunia ke dalam pemunuhan massa untuk kedua kalinya dalam seperempat abad; membakar peradaban; dan ancaman merusak dasar dasar kemanusiaan. Dan juru bicara bagi orang orang miring ini menganggap kita gila dan perjuangan kami bagi sosia¬lisme bukti ketidakrealistisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, justru sebaliknya. Di dalam berjuang melawan kegilaan kapitalisme&amp;nbsp; terhadap sistem sosialis bebas dari penghisapan dan penindasan, perang perang, krisis krisis, perbudakan imperialis, dan barbarisme, kami marxis&amp;nbsp; adalah orang orang yang paling berakal sehat hidup. Itulah mengapa, tak seperti kelompok kelom¬pok politik dan sosial yang lain, kami ambil ilmu logika sebegitu seriusnya. Logika kami adalah alat yang sangat penting untuk membantu perjuangan melawan kapitalisme dan bagi sosialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;logiks fislektika materialis adalah, pasti, begitu berbeda dari logika yang ada dari dunia borjuis. Metode kita, seperti ide ide kita, adalah, seperti yang kita ajukan untuk membuktikan, lebih ilmiah, lebih prkatis, dan juga jauh lebih logis daripada logika yang yang lain. Kita mengutamakan pemhaman yang lebih luas dan kepemahaman prinsip prinsip fundamental dari ilmu yang disana ada&amp;nbsp; suatu logika terdalam dari hubungan hubungan menembus semua ralitas dan bahwa hukum dari logika bisa diketahui dan disebarkan kepada yang lainnya. Dunia sosial di sekitar kita hanya merupakan indrawi sperfisial. Ada metode pun dalam kegilaan klas kapitalis. Kesulitan kita adalah menemukan hukum apa yang paling umum dari logika dalam dari alam, masyarakat, dam pikiran manusia.Sementara kaum borjuis hilang ingatan, kita harus berusaha meningkatkan dan memperjelas punya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita punya presiden presiden yang hebat untuk usaha semacam ini. Selama tahun tahun awal PD I, Lenin, didalam pembuangan di Berne, Swiss, merangkum studi logika hegel nya secara simultan dengan mengembangkan program perjuangan bolsewiknya melnentang perang imperialis. Kesan dari karya teoritis ini dapat dilihat dari semua pemikiran, tulisan, dan tindakannya selanjutnya. Lenin mempersiapkan dirinya dan partainya bagi kedatangan peristiwa peristiwa lewat penguasaan dialektika. Dalam bulan bulan pertama PD II, saat mengatur pertempuran menlawan oposisi borjuis kecil dalam partaipekerja sosialis, Trotsky menekankan berkali kali betapa pentingnya metode dialektika materialis dalam poilitk sosialis revolusioner. Bukunya, In defense of Marxism, berevolusi di sekitar poros teoritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah, seperti didalam semua aktivitas kami, kami dipandu oleh pemimpin pemimpin sosialisme ilmiah yang mengajarkan kebe¬naran dialektika yang tak ada yang begitu prkatis dalam politik kaum proletar selain metode berppikir yang benar. Metode tersebut hanya lah metode dialektika materialis yang sedang kita kaji.&lt;div class="flockcredit" style="text-align: right; color: #CCC; font-size: x-small;"&gt;Blogged with the &lt;a href="http://www.flock.com/blogged-with-flock" style="color: #999; font-weight: bold;" target="_new" title="Flock Browser"&gt;Flock Browser&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-2955482468078944872?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/2955482468078944872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2011/07/logika-formal-dialektika.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/2955482468078944872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/2955482468078944872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2011/07/logika-formal-dialektika.html' title='LOGIKA FORMAL &amp;amp; DIALEKTIKA'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-641359006905425332</id><published>2009-12-10T15:02:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T15:14:33.927-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Link'/><title type='text'>Jejaring</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berdikari Online&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sebuah website yang didirikan oleh Partai Persatuan Pembebasan Nasional (PAPERNAS), untuk menyampaikan berita, ide-ide dan pemikiran, serta forum diskusi tentang pembebasan nasional, khususnya di Indonesia.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://papernas.org"&gt;www.papernas.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jurnal Arah Kiri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jurnal Alternatif Kaum Progressif Indonesia&lt;br /&gt;&lt;a href="http://arahkiri2009.blogspot.com/"&gt;www.arahkiri2009.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perempuan Kiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu ruang untuk diskusi mengenai nasib perempuan Indonesia, bagaimana pergerakannya, dan usaha mengakhiri penindasan perempuan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://perempuankiri.blogspot.com/"&gt;www.perempuankiri.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-641359006905425332?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/641359006905425332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/jejaring.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/641359006905425332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/641359006905425332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/jejaring.html' title='Jejaring'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-2761950751231881989</id><published>2009-12-10T12:44:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T13:10:51.195-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Populer'/><title type='text'>Sebuah Pengantar Pendidikan yang membebaskan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Mansour Fakih, Sang Panutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pandangan yang kuat dikalangan para pendidik radikal khususnya, bahwa pendidikan ataupun penyelenggaraan proses belajar-mengajar, diantaranya dalam bentuk apapun, pada dasarnya tidak pernah terbebas dari kepentingan politik ataupun terbebas demi melanggengkan sitem sosial ekonomi maupun kekuasaan yang ada, Pandangan ini berangkat dari asumsi bahwa pendidikan bagi aparatus dominasi selalu digunakan demi melanggengkan ataupun melegitimasi dominasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan pandangan maupun teori “reproduksi” dalam pendidikan tersebut, ada pandangan maupun teori pendidikan yang juga datang dari kelompok pendidik radikal yang justru berangkat dari asumsi dan keyakinan bahwa pendidikan adalah proses “produksi” kesadaran kritis, seperti menumbuhkan kesadaran kelas, kesadaran gender maupun kesadaran kritis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kedua inilah yang dianut oleh sekelompok fasiltator atau kalangan penyuting tulisan buku referensi ini kedalam dalam bentuk blogspot. Oleh karena itu, pendidikan bagi kelompok kedua ini lebih merupakan proses pembebasan manusia. Pendirian mereka berangkat dari asumsi, bahwa manusia dalam sistem dan struktur sosial yang ada pada dasarnya mengalami proses dehumanisasi karena eksploitasi kelas, dominasi gender maupun karena hegemoni dan dominasi budaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu pendidikan merupakan suatu sarana untuk “memproduksi” kesadaran untuk mengembalikan kemanusiaan manusia, dan dalam kaitan ini, pendidikan berperan untuk membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasarat upaya untuk pembebasan. Buku ini, merupkan kompilasi dari refleksi pengalaman para pendidik dan fasilitator aliran yang kedua, yakni mereka yang percaya bahwa tugas pendidikan adalah memproduksi kesadaran kritis untuk suatu proses pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu referensi ini tidak ditulis berdasarkan hasil pemikiran belaka, melainkan suatu hasil refleksi dari pengalaman mengembangkan praktek “pendidikan popular” dari para fasilitator dalam jaringan INSIST. Oleh karena itu juga buku ini memuat tidak saja refleksi teoritik proses belajar yang dianut oleh para fasilitator yang mengkompilasi buku ini, namun juga memuat pengalaman berbagai penerapan metode pelatihan serta implikasinya terhadap berbagai teknik dalam penyelenggaraan proses belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah makanya dalam tulisan referensi ini, banyak dibahas dan dimuat contoh berbagai teknik dan media dari proses belajar yang membebaskan, Yang merupakan sebuah refleksi teoritik dan ideologis tentang pemikiran pendidikan, ia juga merupakan hasil kompilasi dokumen pengalaman teknis pembelajaran yang dapat digunakan oleh para pembaca untuk memfasilitasi proses belajar di tengah masyarakat.&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-2761950751231881989?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/2761950751231881989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/sebuah-pengantar-pendidikan-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/2761950751231881989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/2761950751231881989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/sebuah-pengantar-pendidikan-yang.html' title='Sebuah Pengantar Pendidikan yang membebaskan'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-5656261508350078494</id><published>2009-07-18T02:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-18T03:01:51.721-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset Kritis'/><title type='text'>Kebutuhan Akan Sebuah Metode Riset Kritis</title><content type='html'>Argumentasi utama paper ini adalah bahwa pengembangan teori-teori kritis membutuhkan sebuah metode riset kritis. Kita tidak dapat menggunakan logika penelitian yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu sosial positif guna mengembangkan ilmu sosial kritis. Lagi pula sebagian besar teori kritis dan analisa Neo-Marxis pada umumnya semakin jauh dari rakyat dan analisis kelas, dan karena itu sedikit sekali perhatiannya terhadap perubahan progresif. Teori kritis demikian tidak dapat memisahkan kajian teori dan praktek politik. Karena itu (Anderson, 1976) menyatakan mengapa ilmu sosial dan analisis radikal dipelajari pada semua Universitas.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fungsi ilmu sosial kritis adalah meningkatkan kesadaran para pelaku perubahan dari realitas yang diputar balikkan oleh kalangan tertentu dan disembunyikan dari pemahaman sehari-hari. Fungsi ilmu sosial kritis yang demikian didasarkan pada prinsip bahwa semua manusia, baik laki-laki atau perempuan secara potensial adalah agen aktif dalam pembangunan dunia sosial dan kehidupan personal. Rakyat adalah subyek dalam menciptakan proses sejarah, bukan obyek. Teori kritis secara sadar berkeinginan untuk membebaskan manusia dari konsep-konsep yang secara ideologis beku dari kenyataan dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan. Jelas bahwa metode riset yang diperlukan untuk merubah pemahaman terhadap dunia manusia tidak dapat di adopsi dari ilmu-ilmu sosial positif dan ilmu-ilmu alam. Metode ilmu sosial positif melihat bahwa masyarakat adalah informasi netral untuk observasi sistematis. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa dalam ilmu sosial positif kemudian terjadi monopoli pengetahuan. Metode-metode ini menjadikan manusia sebagai obyek yang diperlakukan sebagai data mentah yang kebenarannya dapat di rekayasa oleh penelitinya. Metode riset ilmu sosial positif sengaja mengeluarkan proses-proses sejarah dengan menjadikan gejala sebagai gejala alam dan melihat masyarakat berada diluar pemahaman peneliti. Sebagai kosekuensinya adalah memperkuat keterasingan pelaku penelitian sosial dari lembaga-lembaga sosial, politik dan ekonomi mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode penelitian kritis justru menempatkan manusia sebagai sekumpulan subyek yang aktif dalam membentuk dunia mereka sendiri yang didasarkan pada dialog antar subyek (peneliti dengan pelaku), bukan sekedar observasi dan eksperimen yang menipu rakyat. Ilmu-ilmu sosial kritis karena itu harus secara langsung menjadikan rakyat mengerti dunia mereka sendiri dan mampu melakukan aksi-aksi revolusioner dengan cara melibatkan mereka dalam proses penelitian. Dengan begini ilmu alam menjadi sebuah metode untuk aksi penyadaran, bukan ideologi dominasi teknokrat terhadap rakyat yang dianggap pasif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-5656261508350078494?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/5656261508350078494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/kebutuhan-akan-sebuah-metode-riset.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/5656261508350078494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/5656261508350078494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/kebutuhan-akan-sebuah-metode-riset.html' title='Kebutuhan Akan Sebuah Metode Riset Kritis'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-4756900278654565146</id><published>2009-03-06T07:57:00.000-08:00</published><updated>2009-07-18T03:12:49.478-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan Populer'/><title type='text'>Nasibnya Ilmu Pengetahuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_pbJRAOhS7x0/SbFPL0vAYWI/AAAAAAAADMI/7FMJw84-u5g/s1600-h/Buku+bakar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 258px; height: 174px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_pbJRAOhS7x0/SbFPL0vAYWI/AAAAAAAADMI/7FMJw84-u5g/s320/Buku+bakar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310112500199481698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ilmu Pengetahuan boleh jadi merupakan tenaga terkuat yang pernah dilihat umat manusia. Sebegitu kuatnya hingga ia adalah bukan apa-apa dibanding dengan potensi yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Dimasa mendatang, peramalan kita akan kebesaran dan kekuatan yang dimiliki ilmu pengetahuan ternyata merupakan usaha sia-sia yang sangat memilukan dan memalukan. Kekuatan dasyhat ilmu pengetahuan justru malah sangat membahayakan, khususnya bila digunakan oleh mahluk serakah, irasional dan kompulsif dengan penunjang peradaban yang tidak memadai seperti manusia. Hal itu sama saja seperti seekor monyet yang menemukan pistol yang berisikan peluru&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuanpun telah melalui perjalanan panjang. Ia harus berjalan menghadapi cobaan berat dari kekuatan-kekuatan berwatak jahat yang masih ingin mempertahankan sisa-sisa kekuatan dan kehormatan mereka. Seperti anak jenius yang aneh, ia dikucilkan oleh yang lainnya bahkan didiskriminasi dan diolok. Tapi kita semua tahu bahwa dialah yang pada akhirnya justru menjadi pemenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala macam bentuk usaha manusia selalu didasarkan pada tujuan, tapi tujuan dan jalannya menuju tujuan tersebut selalu dipilih berdasarkan nilai dan keyakinan yang dimiliki. Perwujudan terhadap apa yang hendak dicapai yakni pendorong dari seluruh usaha sehingga tujuannya-pun merupakan nilai yang dianut oleh mereka. Nilai adalah hal yang sangat penting bagi manusia, karena nilai sesuatu hal yang memberi makna terhadap kehidupan yang dimiliki manusia, nilai adalah jiwa yang memberi perasaan kepada manusia bahwa dialah seorang manusia, nilai adalah esensi dari keberadaan manusia sendiri. Sehingga dalam segala macam upaya apapun jangan pernah kita kehilangan nilai, jangan pernah kita kehilangan jiwa tujuan manusia, jangan pernah kita hilang manusianya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan dimulai dengan penuh sarat nilai, dengan penuh sarat tujuan yang amat mulia. Ia adalah perjuangan terhadap kebohongan, perjuangan terhadap pembebasan dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan, keacuhan dan kebohongan yang semuanya merupakan kejahatan akan hati nurani manusia sendiri. Dan ia harus melalui perjuangan yang amat berat, pengorbanan terhadap ribuan jiwa manusia, jiwa-jiwa yang ihlas berkorban demi keyakinan mereka, menghadapi ribuan jiwa yang melawan juga untuk keyakinan mereka. Memang semuanya tidak segampang hitam putih, yang pasti dunia modern menganggap mereka yang berkoban demi ilmu pengetahuan sebagai pahlawan sementara mereka yang berjuang mengkritisi malah mendapat label sebagai penjahat. Jika perjalanan sejarah berkebalikan dengan sekarang sudah tentu anggapan di atas juga akan berbalik pula. Yang pasti ilmu pengetahuan waktu itu berjuang melawan kekuasaan lama yang sudah tua, sudah waktunya minggat. Toh tidak ada yang kekal kecuali Gusti diatas sana! Dan tentu wajar saja kekuatan tua itu melawan dan mempertahankan diri dalam keadaan menghadapi ajal sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sistem terkandung nilai dan kepercayaan tersendiri. Semuanya boleh-boleh saja dan memang dibutuhkan agar sistem itu dapat berjalan seoptimal mungkin. Tapi jangan pernah lupa bahwa ada tujuan utama manusia yang paling luhur dengan nilai yang luhur pula, sebuah nilai universal yaitu nilai kemanusiaan, nilai yang menjadikan kita manusia. Adalah nilai tersebut dengan tujuannnya keseluruhan dari usaha manusia dituju. Adalah nilai itu dan tujuannya yang menjadi pencetus seluruh keyakinan yang muncul baik dimasa lampau, sekarang ini ataupun masa depan. Masalahnya dengan sistem yang memiliki tata nilai sendiri seperti yang telah berulang-ulang kali terjadi dalam sejarah, yaitu bahwa nilai-nilai sempit sistem itulah yang menggantikan nilai luhur manusia sehingga tujuannya pun menjadi tujuan egois system itu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sistem tersebut akhirnya hidup dan sadar bahwa ia mempunyai keinginan sendiri sehingga mengekploitasi bahkan memperbudak manusia yang merupakan pembuatanya untuk mencapai tujuan-tujuan egoisnya sendiri, ketika saat itu manusia untuk memulai sadar akan hal ini dan mencoba menghentikan sistem tersebut oleh sistem baru yang menawarkan pengembalian kejalan semula, yang pada akhirnya sistem baru tersebut kembali salah alur sehingga siklus akan berjalan ditempat, sebuah siklus yang tampaknya tidak pernah berhenti, bahawa terbesar suatu sistem adalah pendogmaan terhadap nilai-nilai sempit tiap keyakinan yang seharusnya bersifat sementara dan elastis terhadap perkembangan zaman.&lt;br /&gt;ilmu pengetahuan telah begitu jauh keluar dari jalur aslinya, ilmu pengetahuan telah kehilangan makna bagi manusia ia telah begitu menjauh sehingga manusia telah merasa dekat dengan ilmu pengetahuan sendiri, sehingga kegunaannya telah hilang dan daya pikatnya mulai luntur, ilmu pengetahuan sekarang tidak pernah memberi manfaat terhadap manusia, ia pun tidak pernah lagi memberi jawaban kepada penciptaannya, hanyalah alasan ataupun menghentikan arah pembahasan yang sama-sama hampanya. ilmu pengetahuan adalah kekuatan yang amat sangat dahsyat sehingga untuk bermain-main tanpa tujuan sesungguhnya sangatlah berbahaya. ditambah ilmu pengetahuan kini justru digunakan oleh sistem-sistem yang lebih rakus dan jahat dengan tujuan picik mereka. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-4756900278654565146?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/4756900278654565146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/03/nasibnya-ilmu-pengetahuan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/4756900278654565146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/4756900278654565146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/03/nasibnya-ilmu-pengetahuan.html' title='Nasibnya Ilmu Pengetahuan'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_pbJRAOhS7x0/SbFPL0vAYWI/AAAAAAAADMI/7FMJw84-u5g/s72-c/Buku+bakar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-1787126512822971141</id><published>2008-02-15T22:47:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T22:53:43.318-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pergerakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Marxis'/><title type='text'>Prinsip Dasar dari Filsafat Marxis Bagian II</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Komponen penting kedua dalam filsafat Marxis adalah dialek¬tika, yang mengajukan masalah, bagaimana dunia berkembang?  Dialektika menyatakan bahwa semua gejala, baik dalam alam dan masyarakat, pada dasarnya adalah proses yang terus bergerak dan saling berhubungan, ketimbang sesuatu yang statis dan terasing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pandangan ini menyatakan bahwa proses-proses ini adalah hasil dari kecenderungan yang secara inheren berlawanan dan bertentan¬gan, yang menjadi asas dari semua gejala. Perkembangan dan hi-langnya gejala dilihat sebagai hasil dari pertentangan dan hasil dari kecenderungan yang berlawanan. Lebih lanjut, perubahan benda-benda bukan hanya secara kuantitatif, tapi benda-benda justru memasuki tahap-tahap perkembangan yang baru dan lebih tinggi sifatnya. Jadi, dalam alam semesta,  benda-benda muncul, berubah dan menghilang sebagai bagian dari proses yang berjalan terus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Seperti materialisme dan idealisme, dialektika juga memiliki lawan, yaitu metafisika.  Metafisika memandang dunia sebagai kumpulan sejumlah entitas (satuan) yang terpisah, yang statis dan tidak bergerak. Metafisika melihat segala sesuatu terpisah satu sama lain, dan tidak melihat hubungan dari semuanya; perubahan pun hanya dianggap sebagai hasil pengembangan atau kemunduran yang sangat sederhana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jelas, metafisika dan dialektika bertentangan cara pandangnya. Marxisme memasukkan dialektika sebagai bagian dari cara pandangnya karena dialektika menjelaskan gerak dan saling hubungan antara gejala dalam alam semesta, dan juga menjelaskan perubahan kualitatif yang terjadi di dunia. Pandangan metafisis takkan dapat secara tepat menjelaskan alam dan masyarakat yang senantiasa bergerak dan terus menerus memunculkan gejala baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Lebih lanjut, penggunaan cara pandang metafisis akan menghasilkan penglihatan politik yang usang dan terbelakang. Jelas jika persoalan sosial dan pertentangan kelas dapat dimengerti sebagai gejolak dan gelombang masyarakat statis, yang hanya dipengaruhi oleh kondisi eksternal di luar kekuasaan kita, maka tujuan akhir untuk mengubah masyarakat dan menciptakan tatanan baru menjadi tidak ada artinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Filsafat  Marxis-Leninis telah memasukkan pencapaian ilmiah dari masa sebelumnya dalam mengembangkan cara pandang materialisme dialektis. Marx dan Engels bersandar pada karya filsafat borjuis bernama Feuerbach, yang telah menempatkan cara pandang materialis pada titik yang amat maju, sebelum Marx dan Engels. Namun, materialisme Feuerbach ini terbatas dengan memandang perubahan sebagai sesuatu yang mekanis dan melihat gejala-gejala sebagai hal yang terpisah dan statis. Serupa dengan itu, Marx dan Engels juga berpijak pada karya filsuf borjuis yang bernama Hegel, yang melakukan hal yang sama dalam dialektika seperti dilakukan Feuerbach dalam materialisme. Namun lagi-lagi kekuran¬gannya, teori Hegel tentang dialektika terbatas karena mengikat semua gejala pada satu sumber yang spiritual. Pencapaian Marx dan Engels yang dahsyat adalah pengembangan lebih lanjut dari karya-karya Feuerbach dan Hegel, dan penyatuan prinsip-prinsip materi¬alisme dan dialektika ke dalam satu cara pandang dunia yang utuh, yakni materialisme dialektis. Seperti diperlihatkan mereka, unsur-unsur dari materialisme dialektis tidak dapat dipahami sepenuhnya jika dilihat sebagai dua unsur yang terpisah. Kita takkan berpikiran materialis jika meniadakan kehadiran perubahan dan perkembangan di dunia, dan kita juga takkan memahami peruba¬han dan perkembangan ini dengan baik jika tidak menempatkan kondisi material sebagai hal yang menentukan. Marx dan Engels memperluas cara pandang filsafat ini dalam pemahaman mereka tentang alam, masyarakat dan pemikiran. (Karya filsafat Marx &amp;amp; Engels: The German Ideology,The Poverty of Philosophy, Dialectics of Nature, Ludwig Feuerbach, dan Anti-Duhring)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Lenin selanjutnya mengembangkan hasil kerja Marx dan Engels. Ia menyambut tentangan borjuis terhadap materialisme dialektis pada zamannya, dan memberikan sumbangan khusus bagi teori Marxis tentang pengetahuan dan metode dialektis. Karya-karya filsafat Lenin adalah Materialism and Empirico-Criticism dan Philosophical Notebooks. Sebagai cara pandang dunia yang umum, filsafat Marxis-Leni¬nis mengemukakan semua masalah dalam realitas sosial: alam, masyarakat dan pemikiran. Materialisme dialektis sering dibahas dalam konteks pandangan Marxis tentang alam. Dalam studi ini, kita juga akan mengamati penerapan filsafat dalam bidang pemikir-an dan masyarakat. Dalam pemikiran, kita akan menelaah teori Marxis tentang pengetahuan. Ini adalah teori pengetahuan yang materialis dan dialektis sekaligus, yang mulai dari pemahaman bahwa ide mencerminkan realitas material dan bahwa pikiran berkembang dalam cara dialektis, dari hal yang sederhana ke hal yang rumit. Teori pengetahuan adalah masalah filsafat yang pent¬ing karena berurusan dengan hubungan antara pengetahuan dan pengalaman, dan karena itu menempatkan kerja teoretis kita dalam hubungannya dengan praktek politik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Akhirnya, kita akan mengamati filsafat Marxis dalam bidang masyarakat manusia, yaitu materialisme historis. Di sini, materi¬alisme historis juga dimulai dengan telaah terhadap landasan material,  yaitu cara manusia mengelola proses produksi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dasar, yang merupakan landasan munculnya tempat ide, politik dan kebudayaan. Materialisme historis juga berwatak dialektis karena melihat sejarah sebagai proses perubahan dan perkembangan. Dalam mempelajari materialisme his¬toris, kita akan melihat bagaimana filsafat Marxis menyediakan bukan hanya pemahaman tentang masa lalu, tapi juga arah dan tuntunan bagi masa depan. Secara khusus, materialisme historis Marxis memungkinkan kita menemukan landasan eksploitasi kaptialis dan menunjuk jalan bagi pembangunan sosialisme. Ini adalah unsur-unsur dari filsafat Marxis-Lenin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-1787126512822971141?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/1787126512822971141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/02/prinsip-prinsip-dasar-dari-filsafat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/1787126512822971141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/1787126512822971141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/02/prinsip-prinsip-dasar-dari-filsafat.html' title='Prinsip Dasar dari Filsafat Marxis Bagian II'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-6366311361588875460</id><published>2008-02-14T22:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T22:54:06.013-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pergerakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Marxis'/><title type='text'>Prinsip Dasar dari Filsafat Marxis Bagian I</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kita sudah membahas arti penting revolusioner dari filsafat Marxis, dengan mengamati isinya secara umum. Sekarang kita akan mengamati cara pandang ini lebih rinci, dengan menelaah komponen utama dari materialisme dialektis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertama-tama filsafat Marxis mempertanyakan mana yang  lebih utama: benda (matter) atau ide? Singkatnya, aspek materialis dari materialisme dialektis menyatakan bahwa benda lebih utama dari ide. Dunia dapat dipahami, tapi kehadirannya terpisah dari kesa¬daran manusia. Artinya, walaupun dipikir atau tidak, kenyataan benda itu tetap ada. Contohnya begini, sekalipun kita tidak memikirkan air yang senantiasa mengalir ke tempat yang lebih rendah, kenyataan itu tetap berlangsung.Sekalipun kita tidak tahu bahwa matahari terbit di timur, kenyataan itu tetap berlangsung. Sekalipun keterangan ini cukup jelas, masalah benda versus ide ini tetap menjadi jantung pertentangan filsafat di masa lalu, dan berlanjut terus sebagai fokus perdebatan filsafat. Idealisme, cara pandang yang berlawanan, menyatakan bahwa hal yang ada di dunia itu semata benda dalam pikiran, dan bukan benda material &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam pandangan idealisme dunia hanya hadir dalam pikiran orang, atau dengan kata lain bahwa dunia diciptakan oleh kekuatan spiritual tertentu. Engels mengungkapkan perbedaan antara materialisme dan idealisme seperti ini :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;"Masalah besar yang paling mendasar dari semua  filsafat, dan terutama filsafat dewasa ini, berkisar pada hubungan antara berpikir dan ada. Para filsuf terbagi dalam dua kubu menurut jawaban mereka terhadap persoa¬lan tersebut. Mereka yang mengunggulkan ide di atas alam, dan dengan begitu pada akhirnya berasumsi tentang penciptaan dunia membentuk kubu idealisme. Yang lain, yang melihat alam lebih utama, tergabung dalam beberapa aliran materialisme. Ini adalah pengertian paling dasar dari kedua istilah itu, idealisme dan materialisme. (Engels, Ludwig Feuerbach, International Publishers, 1978, hlm. 20-1.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Walau filsuf materialis sudah menulis sebelum mereka, Marx dan Engels lah yang pertama membuat elaborasi materialisme dari segala segi, sambil membuat kritik yang menyeluruh terhadap idealisme. Dalam pencarian mereka akan prinsip-prinsip yang melandasi proses sosial dan alam, jelas bagi Marx dan Engels bahwa idealisme hampir-hampir tidak menghadirkan pandangan ilmiah tentang dunia, dan nyata bisa berkembang hanya karena ketidakpe¬dulian manusia terhadap kekuatan yang menghasilkan proses terten¬tu. Idealisme, sebagai cara pandang sosial, bisa menuju fatalisme, idealisme sering mengatakan bahwa manusia tidak dapat mengubah dunia di hadapan mahluk spiritual yang luar biasa kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain idealisme dapat menuju pada voluntarisme--  pandan¬gan bahwa keinginan manusia dapat mengubah segala sesuatu, tanpa mempedulikan kondisi materialnya. Jelas bahwa fatalisme dan voluntarisme mencerminkan kekacauan idealisme dalam memahami hubungan antara benda dan ide.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Idealisme adalah cara pandang filsafat yang dominan dalam perjalanan sejarah, karena ketidaktahuan dan ketidakpedulian manusia sendiri. Kemunculan kapitalisme, yang beriringan  dengan perkembangan ilmu dan teknologi, banyak membantu dalam mengalah¬kan kekuatan idealisme dan meletakkan basis bagi materialisme.  &lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Banyak filsuf borjuis di masa awal kapitalisme adalah pemikir materialis. Pertentangan antara idealisme dan materlisme, bagaimanapun tetap berlangsung sampai saat ini. Ilmuwan borjuis tidak menerapkan materialisme secara konsisten terhadap kenyataan sosial, khususnya kalau menganalisis ilmu sosial (sejarah, antropologi  dan  sebagainya). Dalam bagian-bagian berikut akan kita amati pertentangan idealisme dan materialisme lebih cermat, dengan mengacu pada perdebatan di masa lalu dan juga masa kini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-6366311361588875460?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/6366311361588875460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/prinsip-prinsip-dasar-dari-filsafat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6366311361588875460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6366311361588875460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/prinsip-prinsip-dasar-dari-filsafat.html' title='Prinsip Dasar dari Filsafat Marxis Bagian I'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-881305578392413987</id><published>2008-02-12T16:16:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T18:52:24.658-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pergerakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Marxis'/><title type='text'>Pembalikan Revolusioner dalam Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;Pada tulisan sebelumnya kita telah mencatat arti penting dari filsafat Marxis sebagai alat memahami kondisi obyektif yang eksploitatif dari kapitalisme dan sebagai "senjata spiritual" bagi proletariat dalam perjuangan mereka menentang kapitalisme dan demi sosialisme. Kita dapat memperdalam pengertian ini, pengertian tentang signifikansi revolusioner dari filsafat Marxis dengan mengamati bagaimana filsafat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menggabungkan filsafat dengan ilmu.  Ilmu berbeda dari filsafat karena ilmu hanya memberikan pengetahuan tentang wilayah khusus dari alam atau masyarakat, sementara filsafat berusaha memberikan gambaran menyeluruh dari hukum-hukum alam, masyarakat dan pikiran. Ilmu, yang menggunakan metode investigasi yang empiris dan teoretis, mempelajari bidang tertentu seperti biologi, fisika, sejarah dan antropologi. Ilmu mengambil kesimpulan langsung dari penyelidikan terhadap alam dan masyarakat, dan menguji kebenaran kesimpulan ini melalui praktek dan bukan hanya "dalam pikiran".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumbangan yang beragam dari para ilmuwan dan filsuf terhadap pengetahuan manusia dapat segera dilihat dengan membandingkan ilmuwan seperti Galileo, Newton, Darwin dan Einstein dengan filsuf macam Plato, Thomas Aquinas dan Hegel. Namun, terlepas dari pembedaan di antara kedua bidang ini, juga ada hubungan yang sangat erat. Dalam hubungan ini filsafat melingkupi pengetahuan tertentu yang diperoleh dari ilmu ke dalam pandangan dunia dan metodologi yang lengkap, dan dengan begitu menyediakan kerangka teoretis yang umum demi kemajuan ilmu. Jika hubungan ini dikacaukan pada salah satu  sisi, maka kesalahan fatal adalah akibatnya. Tidak ada orang yang memahami hubungan antara ilmu dan filsafat lebih ketat daripada Marx, yang pada saat bersamaan adalah seorang ilmuwan sosial yang cemerlang sekaligus filsuf revolusioner. Marx sekaligus menghasilkan ilmu sejarah dan masyarakat serta filsafat yang merangkum hukum-hukum paling umum dari ilmu ini. Seperti telah kita catat, cara pandang dari mayarakat primi¬tif terutama berlandaskan pada mitologi karena pengetahuan ilmiah tentang dunia pada saat itu masih bersifat minim. Secara bertahap, saat pengetahuan ilmiah makin mendalam, masyarakat mulai berpaling dari mitologi. Namun, mistisisme terus merupakan kekua¬tan dominan dalam cara pandang masyarakat perbudakan dan feodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mistisisme dunia dijelaskan sebagai hasil kerja kekuatan spiritual, seperti dewa matahari, bulan, raja laut, dan seterusnya.  Jadi, sebelum ilmu itu ada, yang ada itu  filsafat. Karena itulah, untuk jangka waktu yang lama filsafat dianggap sebagai "ilmu dari semua ilmu", yang mencakup semua bidang pengetahuan manusia dan bisa memberikan tuntunan dengan mengacu pada "prinsip pertama".  Ketika muncul kemajuan ilmu yang hasilnya menentang filsafat yang ada, maka sering terjadi pertentangan tajam, misalnya dalam kasus Galileo, yang kemajuan ilmiahnya dalam memahami bumi dan alam semesta bertentangan dengan cara pandang Katolik.&lt;br /&gt;Perkembangan kapitalisme, bagaimanapun menjadi landasan bagi kemajuan-kemajuan yang dahsyat dalam bidang ilmu. Pengembangan kekuatan produksi memungkinkan manusia mendapat pengetahuan ilmiah yang lebih besar tentang alam dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semua kemajuan ilmu yang dicapai oleh kaum borjuis, filsafat borjuis secara umum menghadirkan ilmu dan filsafat sebagai dua hal yang berdiri terpisah. Misalnya, sekalipun para ilmuwan borjuis dituntut mencari fakta-fakta obyektif dalam kerja ilmiah mereka untuk menghasilkan sesuatu, pandangan filsafat mereka kadang sangat kentara masih diselubungi mistisisme (kepercayaan terhadap dukun, kekuatan spiritual, dan sebagainya). Lebih lanjut, filsuf borjuis terus menghasilkan karya-karya abstrak (tentang sejarah, politik, etika, logika formal, dan  seterusnya) yang gagal menjelaskan sesuatu atau juga bertentangan dengan penemuan ilmu modern. Banyak kekeliruan mendasar yang muncul karena adanya pemisahan antara filsafat dan ilmu oleh kaum bor¬juis. Secara khusus, kita temukan dominasi pragmatisme yang menyatakan  bahwa filsafat yang menyeluruh itu tidak diperlukan dan bahwa pengetahuan manusia hanya perlu dilandaskan pada akumu¬lasi (pengumpulan) fakta-fakta ilmiah yang makin banyak;  kebutu¬han akan tinjauan umum terhadap realitas sama sekali diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, kita menghadapi masalah dogmatisme yang melandas¬kan diri pada "filsafat" tapi tidak didukung oleh pembuktian ilmiah. Kedua kecenderungan ini senantiasa gagal menjelaskan realitas secara utuh --sebuah proses yang memerlukan pemahaman tentang hubungan yang tepat, dan membuat filsafat bergantung pada penyelidikan ilmiah serta menggunakan kerangka yang disediakan filsafat untuk mengarahkan dan membimbing penyelidikan.&lt;br /&gt;Inilah yang dicapai Marxisme dan menghasilkan revolusi dalam filsafat dengan mengubah hubungannya terhadap ilmu. Ini adalah revolusi yang sangat penting, yang digambarkan Engels sebagai "akhir dari semua filsafat dalam pengertian yang diterima sampai sekarang ini." Marx membuat filsafat bergantung pada ilmu, dengan begitu mematahkan praktek lama dari semua filsuf spekulatif yang mencoba menempatkan filsafat mereka di atas ilmu. Buktinya adalah ekonomi politik Marx, yaitu ilmu yang disusun dari penyelidikan empiris dan teoretik tentang ekonomi kapitalis. Dari ilmu ini, Marx menarik kesimpulan umum tentang masyarakat yang kemudian menghasilkan rumusan tentang hukum-hukum gerak masyarakat manu¬sia, atau juga dikenal dengan nama materialisme historis. Pada saat bersamaan, materialisme historis menerapkan prinsip-prinsip umum dari materialisme dialektis kepada masyarakat manusia. Tapi titik berangkatnya tetap investigasi langsung terhadap kenyataan.&lt;br /&gt;Materialisme dialektis harus dipahami sebagai tinjauan umum terhadap hukum-hukum gerak yang nyata di dunia. Jelas bahwa pemahaman terhadap hukum-hukum ini akan memudahkan kemajuan kerja ilmiah, tapi hukum-hukum itu sendiri tidak dapat menciptakan pengetahuan baru tanpa diterapkan dalam bidang ilmu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat Marxis dengan begitu bersandar pada ilmu, membuat kesimpulan dari ilmu dan memasukkannya ke dalam cara pandang dunia dan metodologi yang konsisten. Filsafat Marxis sudah me¬ninggalkan filsafat dalam pengertian spekulatif. Tidak ada lagi filsafat alam yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu alam. Hukum-hukum paling umum dari ilmu alam diungkapkan dalam materialisme dialektis. Tidak ada lagi filsafat sosial, yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu sosial (Marxisme-Leninisme). Hukum-hukum paling umum dari  ilmu sosial diungkapkan dalam materialisme historis.&lt;/span&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-881305578392413987?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/881305578392413987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/pembalikan-revolusioner-dalam-hubungan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/881305578392413987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/881305578392413987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/pembalikan-revolusioner-dalam-hubungan.html' title='Pembalikan Revolusioner dalam Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-9024139371215201612</id><published>2008-02-11T15:34:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T16:00:20.281-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pergerakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Marxis'/><title type='text'>Filasafat dan Kelas Bagian II</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Filsafat dari semua masyarakat sampai sekarang ini adalah refleksi intelektual terhadap kerangka kelas tertentu dan kondisi sosial. Misalnya, dalam masyarakat perbudakan pandangan sosial yang dominan adalah "warga" (citizen). Pandangan ini mengandung aspirasi dari kelas tertentu, yaitu kelas pemilik budak. Pandangan ini mengunggulkan individu untuk memiliki sesua-tu --tanah dan juga manusia dan untuk terlibat dalam kegiatan politik dan intelektual masyarakatnya. Karena itulah masyarakat perbudakan mengembangkan demokrasi hanya untuk para pemilik budak. Filsafat mereka menjadi kode etik bagi kelas pemilik budak. Sama halnya, filsafat yang dominan dalam zaman feodal dapat diartikan sebagai pembenaran terhadap hirarki feodal yang ketat. Terutama dikembangkan oleh gereja Katolik, cara pandang ini mengembangkan cara pandangan statis tentang tata susun ma¬syarakat. Tidak heran bahwa dalam cara pandang ini petani peng¬garap menempati urutan paling bawah sementara raja dan bangsawan lainnya ada di tingkat paling atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ini bukan untuk mengatakan bahwa filsafat itu hanyalah akal-akalan penguasa untuk mengelabui mereka yang tertindas. Filsafat berakar dalam kondisi sosial yang nyata di setiap zaman dan karena itu selalu terbatas pada tingkat pengetahuan manusia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam periode sejarah manapun tidak akan mungkin dibuat analisis obyektif terhadap semua gejala alam dan gejala sosial, karena manusia tidak cukup pengetahuannya untuk memahami semua hal. Pada batas-batas kemampuan mereka menganalisis dunia, maka analisis ini diwarnai oleh kondisi kelas dan oleh cara berfungsinya ma¬syarakat selama ratusan dan bahkan ribuan tahun. Singkatnya, tiada pikiran di dunia ini yang terlepas dari kondisi sosial. Semua pikiran,dengan cara berbeda-beda jelas dipengaruhi kondisi sosial. Lebih lanjut, seluruh masyarakat tak pernah secara utuh dan lengkap disatukan di bawah satu filsafat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi perdebatan filsafat di kalangan kelas penguasa sendiri, dan juga di antara kelas-kelas. Dalam masyarakat perbudakan, misaln¬ya, debat filsafat muncul antara sayap progresif dan reaksioner dari kelas penguasa. Plato mengungkapkan kepentingan dari aris¬tokrat pemilik budak yang reaksioner menentang pandangan dialek¬tis, yang materialis tapi primitif dari Demokritus dan Herakli¬tus. Di pihak lain, Aristotle berulangkali mengkritik teori-teori idealis dari Plato dan menjunjung pendekatan yang lebih materialis untuk memahami dunia. Jadi, sekalipun kedua alur pikiran ini berakar pada kelas pemilik budak, keduanya tidak mengembangkan cara pandang filsafat yang sama.&lt;/span&gt; &lt;span id="fullpost"&gt;Ketika kaum borjuis muncul menentang kekuasaan feodal, mereka dipersenjatai dengan filsafat baru. Cara pandang borjuis mengutamakan  kebebasan individu, dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang sudah terikat pada nasib, tapi sebaliknya setiap orang dapat bekerja sesuai keinginannya untuk maju. Perkembangan ini tercermin secara religius dalam debat antara Katolisisme dan Protestanisme. Sebenarnya, cara pandang Protestan adalah kebutu¬han kaum borjuasi untuk mematahkan pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh feodalisme, agar bebas membuat barang, agar bebas memasuki pasar dan mengambil keuntungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Para pemikir abad Pencerahan (Eropa abad 18) adalah filsuf-filsuf borjuis. Mereka menulis tentang pentingnya "kebebasan" dan "kemerdekaan" dari sudut pandang ekonomi, politik dan intelektu¬al. Para pemikir ini juga menjunjung tinggi kekuatan akal yang begitu besar dari manusia. Mereka memandang pikiran manusia sebagai kekuatan besar, yang sanggup membawa perubahan di dunia. Tetapi, walaupun pemikir Abad Pencerahan ini, seperti Voltaire, Diderot dan Hegel mengembangkan pengertian tentang pentingnya "kebebasan",  "kemerdekaan",  dan "akal", filsafat mereka juga harus dilihat dalam konteks aspirasi borjuis. Seruan akan kebeba¬san diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dari kelas feodal yang membuat sebagian besar penduduk --dan khususnya kaum borjuis sendiri-- terikat secara ekonomi dan politik. Mereka memajukan akal sebagai bagian dari proses mengkritik dan menggerogoti batasan-batasan ekonomi, politik dan intelektual yang dihasilkan keterbelakangan feodalisme.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Jelas bahwa filsafat senantiasa harus ditempatkan dalam konteks sosial dan kondisi kelas. Walaupun bayangan kita tentang filsafat itu sebagai sesuatu yang seakan lepas dari kenyataan, kita harus tahu bahwa filsafat hanya dapat dimengerti sebagai sesuatu yang sangat erat ikatannya dengan kondisi kongkret. Lebih lanjut, sejarah pertentangan filsafat bukan hanya debat antara gagasan-gagasan yang mengasyikkan, tapi cerminan dari  pertentan¬gan kelas dan kondisi kelas. Seperti kita lihat, kelas-kelas yang tertindas dalam masyarakat tertentu sering mengembangkan cara pandang yang menentang filsafat penguasa contohnya, pikiran kaum borjuis yang muncul menentang tata susun feodal. Sama halnya, filsafat Marxisme-Leninisme adalah bagian dari pertentangan kelas pada masa sekarang. Materialisme dialektis dirumuskan dalam periode mana kontradiksi dan ketidakmampuan cara produksi kapitalis menjadi jelas. Filsuf borjuis, dengan seruan mereka tentang "kebebasan" dan "kemerdekaan" tak lagi memainkan peran revolusioner dan tak dapat menjelaskan kegagalan dari cara produksi yang baru itu.Filsafat borjuis mengunggulkan kebebasan individu untuk terlibat dalam produksi, pertukaran dan penghisa¬pan hasil kerja orang lain; dan dengan begitu memberikan alasan dasar bagi kapitalisme. Titik berangkat dari filsafat Marxis adalah melihat kenyataan real dan material sebagai hal utama dan memahami bahwa masyarakat manusia, gagasan dan nilai berangkat dari kondisi material tsb. Dengan begini, filsafat Marxis dapat membuka selubung yang menutupi realitas obyektif dari penindasan dan penghisapan kapitalis. Tapi filsafat Marxis juga berbicara untuk kelas tertentu  --proletariat.  Filsafat Marxis menyediakan alat untuk mengenali proletariat sebagai obyek dari penindasan kapitalis, dan dengan begitu mendukung perjuangan proletariat menentang penindasan. Lebih lanjut, filsafat Marxis tidak memberikan pandangan yang statis tentang dunia, seperti yang dilakukan oleh filsafat dari zaman feodal dan perbudakan. Salah satu unsur kunci dari filsafat Marxis adalah mengenali perubahan dan pertentangan di dunia, yaitu bahwa segala sesuatu senantiasa bergerak dan bahwa kontra¬diksi dapat dipecahkan sehingga manusia dapat bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan begitu, filsafat Marxis membantu menge¬nali proletariat bukan hanya sebagai korban dari penindasan kapitalis, tapi juga sebagai agen perubahan. Bersandar pada kenyataan bahwa proletariat sebagai kelas bertanggungjawab pada keseluruhan  produksi, filsafat Marxis melihat kelas ini sebagai kekuatan yang dapat menghancurkan tata kapitalis dan menghadirkan cara produksi yang baru (sosialisme) di dunia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-9024139371215201612?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/9024139371215201612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/02/filasafat-dan-kelas-bagian-ii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/9024139371215201612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/9024139371215201612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/02/filasafat-dan-kelas-bagian-ii.html' title='Filasafat dan Kelas Bagian II'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-6842112936833217985</id><published>2008-02-11T15:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T16:04:18.622-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pergerakan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Marxis'/><title type='text'>Filsafat dan Kelas Bagian I</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Untuk mempelajari filsafat Marxis, penting bagi kita untuk memblejeti beberapa kesalahpahaman terhadap filsafat yang amat sering terjadi. Kiranya kesalahpahaman yang paling sering terjadi dalam masyarakat adalah bahwa filsafat hanya ada di benak para pemikir besar, dan tidak ada hubungannya dengan kenyataan sehari-hari. Dalam kenyataannya, filsafat sama sekali bukan milik sege¬lintir  pemikir besar, tapi cerminan dari organisasi sosial ma¬syarakat dan watak dari produksi sosial tertentu. Walaupun filsa¬fat diungkapkan oleh individu tertentu, isinya jelas dipengaruhi oleh cara pandang dan kepentingan kelas dari individu tersebut. Dengan kata lain, dalam memberikan gambaran tentang kenyataan, filsafat sudah mengambil posisi sosial tertentu terlebih dulu. Mungkin saja benar bahwa kebanyakan filsafat ada di luar jang¬kauan masyarakat luas (sering dibilang bahwa filsafat itu menga¬wang-awang, tidak menyentuh kenyataan dan seterusnya), tapi yang jelas bahwa filsafat itu berakar pada kondisi sosial tertentu. Ini hal yang tidak mungkin dibantah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Filsafat telah hadir di dunia begitu manusia punya waktu untuk melihat kembali apa yang terjadi di dunia. Pengembangan kemampuan pikiran manusia –seperti filsafat, politik, kebu¬dayaan-- hanya mungkin ada kalau tidak semua orang secara utuh terikat pada kebutuhan memenuhi kebutuhan hidup. Dalam masyarakat primitif, hanya ada sedikit waktu untuk berfilsafat, karena kebutuhan ekonomi cenderung menyerap seluruh kerja dan energi manusia. Dalam usaha menjelaskan teka-teki kehidupan --kenapa hujan jatuh dari langit, apa yang membuat matahari bersinar-- manusia hanya dapat memberi penjelasan yang mitos sifatnya. Mereka sama sekali tidak punya pemahaman ilmiah terhadap hal-hal ini dan karenanya mereka cenderung memberikan penjelasan spiritu¬al terhadap hal-hal yang sesungguhnya material (misalnya, dewa matahari, dewa hujan, dan sebagainya). Dengan begitu, masyarakat didominasi atau dikuasai mitologi --yang pada dasarnya adalah penggantian kenyataan dengan fantasi-- ketimbang filsafat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Dalam perjalanannya, manusia berhasil membuat terobosan-terobosan ilmiah dan dapat menggunakan sejumlah pengetahuannya untuk melengkapi caranya memandang dunia. Tidak ada gunanya lagi memberikan penjelasan spiritual terhadap segala sesuatu, karena penjelasan ilmiah sudah dikembangkan untuk gejala-gejala tertentu (misalnya, sebab adanya api, apa yang membuat tumbuhan berkem¬bang). Hasilnya, masyarakat mulai berpaling dari mitologi kepada filsafat. Namun, karena keterbatasan pengetahuan, manusia belum sepenuhnya dapat meninggalkan penjelasan spiritual. Mistisisme tetap menjadi kekuatan berpengaruh dalam filsafat, dan akhirnya berkembang menjadi agama-agama yang lebih kompleks sifatnya dalam masyarakat modern (Yudaisme, Katolisisme, dan lainnya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ketika kemanusiaan itu berkembang, demikian pula masyarakat kelas dan penindasan kelas. Akhir dari masyarakat primitif menandai awal dari zaman baru di mana manusia dibagi-bagi menjadi penguasa dan yang dikuasai. Ketika hal ini muncul,filsafat mulai mencerminkan posisi kelas dan orientasi kelas. Dapat dimengerti bahwa filsuf kerajaan mencerminkan kepentingan kelas penguasa. Seperti dikatakan Marx dan Engels, "Ide kelas penguasa dalam zaman apapun adalah ide yang berkuasa; yaitu, kelas yang merupakan penguasa kekuatan material dalam masyarakat, pada saat yang sama adalah kekuatan intelektual yang berkuasa. (Marx &amp;amp; Engels,The German Ideology, dalam Selsam &amp;amp; Martel,Reader in Marxist Philosophy,_International Publisher,h.189.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-6842112936833217985?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/6842112936833217985/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/filsafat-dan-kelas-bagian-i.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6842112936833217985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6842112936833217985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/filsafat-dan-kelas-bagian-i.html' title='Filsafat dan Kelas Bagian I'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-1707510890084605945</id><published>2008-02-10T13:42:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T13:53:15.141-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Pergerakan'/><title type='text'>Filsafat ; Landasan Bagi Pergerakan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Studi kita tentang teori Marxis akan dimulai dengan pengama¬tan terhadap filsafat Marxisme, yaitu materialisme dialektis. Kita harus mulai dari filsafat karena filsafat memberikan landasan bagi pemahaman kita tentang ekonomi politik, strategi politik dan masalah teoretis lain yang kita hadapi dalam pergerakan. Filsafat memberikan cara pandang dan metode untuk menelaah semua persoalan yang dihadapi oleh pergerakan. Materialisme dialektis juga memberikan jangkar ilmiah yang kokoh tempat berpijaknya aktivitas kita dalam pergerakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Untuk memulai pembahasan ini kita harus menjawab pertanyaan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Apa itu filsafat? Secara singkat filsafat dapat dikatakan sebagai teori umum tentang kenyataan. FIlsafat meliputi penelahaan terha¬dap berbagai hal mendasar seperti hubungan antara berpikir dan keadaan (thinking and being); bagaimana segala sesuatu berubah dan berkembang; apakah ada kehidupan lain setelah tubuh mati atau tidak;  dan sebagainya. Singkatnya, filsafat mengamati semua masalah yang berurusan dengan alam, masyarakat dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Karena itulah filsafat menjadi titik tolak yang sangat baik untuk studi kita. Pengetahuan kita tentang ekonomi politik yang sudah dimiliki kini bisa diperiksa kembali landasan filsafatnya, apakah sudah berpijak pada cara pikir yang konsisten dan tepat atau belum.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Selama perjalanan sejarah manusia, sudah tak terhitung jumlah filsuf di dunia. Mulai dari pemikir-pemikir dalam masyarakat Yunani seperti Aristoteles, Plato, Socrates dan seterusnya sampai pada pemikir-pemikir modern seperti John Stewart Mill dan Bertrand Russell. Dalam studi ini, kita tidak akan mengulas semua pikiran yang pernah dijabarkan manusia selama hidupnya, juga tidak sebagian dari mereka seperti yang lazimnya dilakukan oleh studi-studi filsafat. Titik berangkat kita adalah filsafat Marxis yang merupakan ungkapan filsafat yang paling maju dalam sejarah manusia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Atas dasar apa kita bisa mengatakan bahwa Marxisme adalah ungkapan filsafat tertinggi yang pernah dibuat manusia ? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pertama, karena akar dari materialisme dialektis ada pada  proletariat dan dengan karena itu, filsafat tersebut juga menjadi cara pandang duniannya. Proletariat tidak berkepentingan untuk memisahkan masyarakat dalam kelas-kelas atau mempertahankan pemisahan yang sudah ada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Proletariat senantiasa berusaha memahami dunia dari sudut yang obyektif dan ilmiah. Semua aliran filsafat terdahulu terikat pada pandangan subyektif yang berusaha mempertahankan struktur kelas yang eksploitatif, tentunya demi keuntungan kelas penguasa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Filsafat Marxis-Leninis adalah filsafat pertama yang secara utuh dan lengkap bersandar pada kelas yang tidak punya kepentingan menindas dan dengan begitu mewakili cara pandang obyektif dan revolusioner di dunia. Kenyataan bahwa Marxisme-Leninisme terang-terangan merupakan pandangan yang membela tujuan dari kelas buruh sama sekali tidak bertentangan dengan asasnya yang obyektif dan ilmiah. Justru karena filsafat ini bersandar pada kelas buruh, maka ia dapat memberikan pandangan ilmiah terhadap kenyataan. Marx dan Engels suatu saat mencatat: "Sama halnya seperti filsafat menemukan senjata materialnya di dalam proletariat, maka proletariat menemukan senjata spiritual mereka dalam filsafat. (Marx dan Engels, dikutip dalam Handbook of Philosophy, disunting oleh Howard Selsam, Proletarian Publisher, 1949.)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Namun, "senjata spiritual" yang disebut Marx di sini sama sekali bukan berarti "kepercayaan" atau optimisme berlebihan. Filsafat di sini justru berfungsi sebagai alat intelektual khususnya cara pandang yang revolusioner dan ilmiah yang sangat penting untuk menjalankan tugas dan strategi di dalam pergerakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Tentu saja, kebutuhan untuk memahami filsafat Marxis semakin terasa saat ini jika dibandingkan sekitar seratus tahun lalu. Rumitnya perkembangan internasional dengan situasi pertentangan kelasnya, dan juga perbedaan-perbedaan di kalangan revolusioner sendiri, makin mendesakkan kebutuhan akan adanya pemahaman yang seragam terhadap filsafat Marxis. Sayangnya, banyak orang yang menamakan dirinya revolusioner meniadakan kebutuhan ini, filsafat sering diabaikan dan diremehkan dalam gerakan revolusioner yang luas. Kebanyakan orang menyingkirkan persoalan filsafat ini karena dianggap kebutuhan akan jawaban-jawaban terhadap persoalan langsung dan kongkret itu jauh lebih penting. Pendekatan pragma¬tis seperti ini telah meniadakan atau mengecilkan arti dari filsafat Marxis sebagai alat yang sangat penting bagi kelas proletariat. Sebaliknya, banyak orang lain yang terlalu terpaku secara dogmatik terhadap filsafat ini, dan mengabaikan bahwa yang terpenting bagaimanapun adalah kemampuan menelaah dan menyelesai¬kan  persoalan. Hal seperti ini memerlukan studi teori dan juga belajar terus menerus dari praktek politik sehari-hari, secara bersamaan, tanpa mengunggulkan yang satu di atas yang lain. Seperti dikatakan Lenin: "Tidak akan ada revolusi tanpa teori revolusioner." Dalam kesempatan lain dikatakannya bahwa teori revolusioner juga hanya mungkin muncul dari gerakan revolusioner itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-1707510890084605945?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/1707510890084605945/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/filsafat-landasan-bagi-pergerakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/1707510890084605945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/1707510890084605945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/12/filsafat-landasan-bagi-pergerakan.html' title='Filsafat ; Landasan Bagi Pergerakan'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-8510297141166988407</id><published>2008-01-19T03:40:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T13:42:51.317-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset Kritis'/><title type='text'>Peranan ilmuwan-ilmuwan sosial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Horkheimer (1972) mencatat bahwa ilmu sosial tradisional positif, dalam usaha memulai kehidupan politik, memisahkan ilmu sosial dengan menggunakan istilah ilmu sosial murni dan ilmu sosial praktis. Dalam pandangan Marx, siapa yang disebut dengan ilmuwan sosial dibedakan menjadi dua: Pengamat teoristis yang bebas nilai dan politik disatu pihak dan orang-orang politik yang menyuarakan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan politik mereka dipihak lain. Orang-orang positif pada umumnya selalu berusaha membedakan dua peran tersebut. Mereka pilih jadi warga negara yang baik dan jadi peneliti dan ilmuwan yang sopan dan obyektif yang bisa menangkap issue-issue penting pada masanya. Menurut paham ini jelas bahwa tugas ilmuwan sosial adalah mendiskripsikan dan menjelaskan fakta-fakta, tidak mencampuri apa yang seharusnya dilakukan [Bernstein, 1976: 44].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ilmu sosial kritis melihat bahwa ilmuwan sosial adalah harus berpartisipasi dalam proses pembangunan manusia. Karena itu para ilmuwan sosial harus menentukan keberpihakannya kepada siapa mereka melayani. Ilmu sosial kritis sama sekali menolak pemisahan antara praktek dan teori, dan bahwa semua praktek dan teori harus didiskusikan, begitu terus tidak berhenti. Kepentingan praktek bagi para ilmuwan sosial kritis adalah bagaimana membebaskan kaum tertindas agar dengan demikian posisi mereka sebagai manusia dapat berubah (juga dilihat sebagai manusia yang pantas hidup dan berkembang, tidak terus ditindas).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ilmu sosial kritis melihat masyarakat sebagai kesatuan manusia dan karena itu hakekat manusia adalah makhuk yang baru mendapatkan kemanusiaannya dalam kebersamaan. Melalui kebersamaan itu kemudian ilmu sosial kritis mencoba melihat struktur, proses dan makna sosial, baik pada masa lalu atau sekarang. Ilmu pengetahuan sosial, karenanya tidak dapat memisahkan diri dari kehidupan sosial nyata, didalamnya mempelajari nilai-nilai, tujuan-tujuan individu, kelompok dan kelas. Ilmu sosial kritis, karena lebih emansipatif, maka mempunyai karakternya berbeda dari ilmu sosial positif yang lebih dekat dengan kelompok dominan yang menindas. Karena sifatnya yang emansipatif, maka ilmu sosial kritis mengenal apa yang disebut sebagai praxis dimana aksi berperan sebagai sumber dan pengesahan teori. Meskipun demikian ilmu sosial kritis tetap menolak cara prediksi karena prediksi dilakukan harus dengan mengeluarkan manusia sebagai unsur pembentuk sejarah mereka sendiri. Ilmu sosial kritis melihat manusia sebagai persatuan subyek yang berusaha mendekati kembali dunia yang mereka bangun. Karena itu bentuk penjelasan ilmiah yang digunakan bersifat historis. Dalam bentuk ini ada dialog antara kondisi yang terjadi pada masa lalu dan sekarang. Secara lebih tegas ilmu sosial kritis melihat kesatuan subyek manusia berusaha membebaskan diri dari struktur yang menindas melalui usaha-usaha mereka sendiri (mandiri).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kriteria kebenaran teori dalam ilmu sosial kritis sangat subyektif. Karena ilmu sosial kritis dinilai dari pemahaman-pemahaman subyektif terhadap proses-proses sosial dan nilai-nilai sosial. Metode penelitian dan validitas penelitian didasarkan pada dialog antar subyek. Riset ini tidak hanya melihat manusia sebagai obyek tetapi melihat mereka sebagi manusia yang dapat berlaku mandiri. Seksi berikutnya saya akan menguraikan metode riset yang didasarkan pada paradigma dialog dan partisipasi, bukan observasi dan manipulasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-8510297141166988407?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/8510297141166988407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/4peranan-ilmuwan-ilmuwan-sosial.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/8510297141166988407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/8510297141166988407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/4peranan-ilmuwan-ilmuwan-sosial.html' title='Peranan ilmuwan-ilmuwan sosial'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-1681568133212114398</id><published>2008-01-19T03:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T13:35:42.906-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset Kritis'/><title type='text'>Bentuk Ilmu Pengetahuan Ilmiah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ilmu sosial positif berasumsi bahwa cara penjelasan yang dilakukan terhadap suatu obyek diberlakukan secara umum terhadap semua ilmu pengetahuan. Paradigma yang dikembangkan adalah nomologis dan ini tidak bisa diterima oleh ilmu sosial pada umumnya, terutama ilmu sosial kritis. Cara ilmu ini selain nomologis adalah ahistoris, diterministik dan prohabilistik. Penjelasan terhadap suatu gejala biasanya dikaitkan dengan usaha meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Semua kegiatan didalam ilmu sosial positif, dari pengumpulan data, penyempurnaan data, korelasi data, dan formulasi generalisasi, hipotesa dan pengembangan model-model penelitian, semuanya diarahkan untuk menguji teori yang dikembangkan berdasarkan kaidah-kaidah logika yang ditetapkan secara ketat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ilmu sosial kritis justru hadir menentang kaidah-kaidah keilmuan yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial positif, dan karena itu mudah menggoncang paradigma. Bila ilmu-ilmu sosial positif mempelajari perilaku manusia maka ilmu sosial kritis mempelajari aksi manusia dan melihat bahwa dunia sosial diciptakan melalui tindakan manusia dan pemahaman inter subyektif. Ilmu sosial kritis mencoba memahami hubungan kondisi-kondisi sosial dengan tindakan subyektif manusia dengan berbagai macam kepentingannya. Karena hubungan antara kondisi sosial dan tindakan manusia itu sifatnya sangat rumit, maka ilmu sosial kritis tidak percaya dengan apa yang disebut prediksi. Karena hakekat masyarakat adalah pemahaman dan tindakan masyarakat itu sendiri maka secanggih apapun kondisi sosial itu diramalkan dan diatur dengan ketat sedemikian rupa, didalamnya pasti terdapat banyak kesalahan. Seperti dikatakan Taylor (1971) kalaulah konsep-konsep dan katagori-katagori ilmu sosial positif masih banyak kita gunakan sekarang, pada masa datang nanti sudah tidak dapat lagi. Kaum positivist beranggapan bahwa apa yang dilakukan sekarang adalah usaha mengembangkan disiplin ilmu yang dipelajari, tetapi tragisnya mereka justru melepaskan bagaimana proses-proses sosial itu tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua proses sosial dipahami sebagai produk tindakan manusia, maka semua pertimbangan kritis harus dimulai dari pemahaman, nilai-nilai, dan inter subyektif. Selanjutnya seperti dikatakan  Von Wright (1971), pengertian-pengertian, nilai-nilai dan motif-motif ini harus dikembangkan dengan proses-proses sosial dengan cara menunjukkan dengan jelas bagaimana mereka dibangun oleh tindakan dan refleksi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan-penjelasan kritis didalamnya meliputi teori-teori dasar tentang perubahan struktural, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan motif-motif yang timbul sebagai akibat dari adanya perubahan struktural. Perbedaan-perbedaan pemahaman tentang struktur sosial (meliputi kekuatan domianan dan kekuatan pinggiran) harus dikaji dalam teori kritis. Sebagai contoh suatu gagasan mobilitas sosial boleh jadi didukung oleh pengalaman personal golongan minoritas kapitalis, terutama di Amerika Serikat pada waktu itu. Konsep mobilitas sosial dalam prakteknya ternyata hanya memberikan keuntungan kaum kapitaslis belaka, sedang orang-orang golongan lemah justru semakin tersingkir karena kelemahannya secara ekonomis oleh penguasa kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-konsep yang diciptakan oleh manusia ternyata dalam praktenya dapat memberikan keuntungan bagi beberapa pihak dan merugikan beberapa pihak-pihak lainnya. Selama manusia yang mencari keuntungan ingin tetap mempertahankan posisi mereka sedang mereka yang tidak diuntungkan dengan sistim tersebut sengaja dibuat tidak paham agar terus menerus dapat dijadikan ajang dominasi. Ilmu sosial kritis hadir ditengah-tengah masyarakat dengan pertimbangan-pertimbangan kritis, ingin menyadarkan manusia yang tidur didunia mereka sendiri. Karena karakternya yang demikian, maka didalam dirinya senantiasa terkandung keinginan untuk melakukan perubahan, baik secara radikal atau tidak. Perubahan-perubahan radikal terjadi karena adanya kontrakdisi-kontrakdisi dalam proses sosial, artinya ada pihak yang mencari keuntungan dan ada yang dirugikan dari haknya antar kelompok didalam ilmu sosial. Semua ini dapat dipahami lewat ideologi dan kondisi-kondisi sosial yang berkembang selama ini. Kontrakdisi fundamental akan terjadi apabila  kepentingan-kepentingan sebagian fihak bertentangan terus menerus dengan kepentingan pihak lainnya,  misalnya dalam satu sistim sosial yang memberlakukan praket-praket monopoli berhadapan dengan sistim kompetisi bebas. Satu kelompok atau kelompok yang tertindas di dominasi dalam sistim yang berkembang sekarang ini akan melakukan perlawanan dan melakukan perubahan sosial sebagaimana mereka kehendaki. Ini adalah perkara politik dan karena itu harus berkali-kali dijelaskan bahwa teori kritis memang tidak bisa dipisahkan dari politik praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana Pergolakan politik itu timbul tergantung pada derajad pertentangan kepentingan kaum progressive dengan para pemegang kekuasaan. Kalau kontradiksi yang terjadi tidak terlalu mendesak, pada umumnya dapat diselesaikan melalui cara damai tanpa harus membungkus ideologi dan struktur kekuasaan. Tetapi kalau kontradiksi itu sangat mendesak, tidak ada cara lain kecuali merombak ideologi dan struktur yang dianggap tidak mapan. Kapan kontradiksi fundamental itu akan terjadi tidak dapat diramalkan oleh ilmu sosial, sebab ini menyangkut kesepakatan manusia secara bersama-sama menghadapi ideologi dan struktur yang berkembang. Karena itu dapat dirumuskan bahwa tujuan teori kritis bukanlah untuk meramalkan perubahan sosial, melainkan memahami perkembangan sejarah masyarakat sehingga mereka melakukan perubahan sosial. Masuknya ilmu sosial kritis dalam percaturan politik praktis seperti dikatakan diatas kemudian membedakan para ilmuwan sosial positif disatu pihak dengan ilmuwan sosial kritis dilain pihak seperti diuraikan dibawah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-1681568133212114398?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/1681568133212114398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/3-bentuk-ilmu-pengetahuan-ilmiah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/1681568133212114398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/1681568133212114398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/3-bentuk-ilmu-pengetahuan-ilmiah.html' title='Bentuk Ilmu Pengetahuan Ilmiah'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-6228048565091782853</id><published>2008-01-18T03:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T13:31:36.720-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset Kritis'/><title type='text'>Penciptaan Ilmu Pengetahuan Sosial</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bagi ilmu sosial positif, pengetahuan berusaha diciptakan melalui observasi-observasi empiris yang dapat diuji secara ketat. Apa yang disebut data menurut ilmu sosial positif adalah deskripsi tentang perilaku-perilaku sosial, dan nilai individual (Taylor 1971 : 32). Data disebut obyektif kalau dapat diuji dengan model-model teori yang sudah ada. Konsep-konsep utama yang lalu dikembangkan diantaranya adalah konsep bebas nilai. Menurut Habermas apa yang disebut sebagai bebas nilai sebenarnya adalah mengandung muatan nilai-nilai. (1971 :69).&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Obyektifitas dan bebas nilai bagi ilmu sosial positif tidak lain adalah keinginan untuk membedakan fakta dengan nilai, antara teori dan praktek. Meskipun tidak diketahuai mengapa demikian, ilmu sosial positif berusaha keras untuk meramalkan dan mengontrol alam (Hambermas, 1971, Bernstein, 1976). Brian Fay juga menyatakan bahwa apabila kepentingan tersebut diterapkan untuk meneliti dunia manusia (bukan alam) maka hasilnya adalah manipulasi hubungan-hubungan sosial, mengagungkan kepentingan-kepentingan teknis dari pada moral, membutakan manusia dari urusan-urusan politik, dan terakhir adalah memperkuat dominasi kelas berkuasa (1976 : 57).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari perspektif ilmu sosial kritis, maka pengetahuan diciptakan untuk dua kepentingan. Pertama, karena manusia adalah makluk sosial, maka prinsip-prinsip moral dan etik harus di ciptakan. Kedua, bahwa prinsip-prinsip moral dan etik itu harus di pahami secara inter-subyektif. Ilmu sosial kritis karena itu tidak dapat melepaskan diri dari pemahaman norma-norma, nilai-nilai dan makna-makna yang bersifat inter-subyektif dalam kehidupan manusia sehari-hari. Karena dua kepentingan diatas maka kemudian timbul kepentingan manusia yang ketiga dan tipe pengetahuan yang ketiga pula. Kepentingan ketiga ini disebut kepentingan pembebasan, yang berarti kritik ideologi dan perubahan sosial fundamental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu sosial kritis menolak untuk menerima praktek-praktek sosial sebagai kebenaran akhir. Baik ide dan tindakan (aksi) yang terjadi dalam proses sejarah sampai sekarang adalah manivestasi dari perubahan struktur sosial. Ilmu sosial kritis harus menganalisis bentuk-bentuk struktur penindasan dan sekaligus mencari jalan keluar untuk pembebasannya (Farganis, 1975). Ilmu sosial kritis harus sampai pada penyingkapan lembaga-lembaga struktural yang bersifat menindas dari satu periode keperiode lainnya. Kalau sudah dipahami makna-makna demikian tadi, maka kemudian diteruskan dengan adanya aksi-aksi sosial dengan cara melawan pengertian-pengertian dan aksi-aksi yang dilakukan sebelumnya.    Lebih jauh dari itu ilmu sosial kritis sebenarnya lahir untuk membebaskan manusia dari konsep-konsep ideologi dan tindakan yang salah kaprah, dan karena itu perjuangan ini menjadi perjuangan politik. Pengetahuan kritis tidak pernah netral, terutama bagi orang-orang yang sudah paham duduk persoalannya diatas. Dalam ilmu sosial krtitis, validitas konsep-konsep data dan teori selalu dikaitkan dengan aspek historis dan tujuan-tujuan subyektif. (Piccone, 1973). Ilmu sosial kritis hadir antara menyeruak makna-makna sejarah dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan aksi yang dapat dilakukan manusia yang sementara ingin membebaskan diri dari dunia penindasan. Untuk melakukan semuanya itu harus digabungkan teori perubahan struktural dengan kritik ideologi. Dalam ilmu sosial kritik senantiasa harus ada dialog anatara teori dan praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-6228048565091782853?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/6228048565091782853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/2-penciptaan-ilmu-pengetahuan-sosial.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6228048565091782853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6228048565091782853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/2-penciptaan-ilmu-pengetahuan-sosial.html' title='Penciptaan Ilmu Pengetahuan Sosial'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-8988298394699189802</id><published>2008-01-18T03:05:00.000-08:00</published><updated>2009-07-18T03:48:57.579-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset Kritis'/><title type='text'>Beberapa Perbedaan antara ilmu sosial kritik dan dan ilmu sosial positif</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Diterjemahkan oleh : Ahmad Mahmudi&lt;br /&gt;Dari buku asli  : A METHOD FOR CRITICAL    RESEARCH&lt;br /&gt;Ditulis oleh  : Donald E. Comstock&lt;br /&gt;Departement Of Sociology&lt;br /&gt;Washington State University, 1980&lt;br /&gt;No. 72 Circulate as part of the Transforming Sociology Series by the Red Feather Institute for Advenced Studies in Sociology&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar pemikiran ilmiah terletak pada kepercayaan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan adalah alat yang paling efektif untuk membebaskan manusia. Akan tetapi apa yang telah terjadi dalam ilmu sosial positif adalah sekedar penjelasan pengetahuan dari dasar-dasar metodologi dan epistemologinya. Ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk pembebasan manusia telah diganti dengan nama ganda, yakni untuk membebaskan atau menindas sama saja. Ilmu-ilmu sosial kontemporer, dengan demikian tidak lebih dari dominasi metodologi dan epistemologi  ilmu-ilmu  alam yang  melihat  bahwa  subyek  perlu dipisahkan dengan obyek, peneliti dengan yang diteliti.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teori kritis berlawanan sama sekali dengan anggapan-anggapan seperti diatas. Teori-teori kritis secara tegas menolak pandangan bahwa manusia dan masyarakat dapat dipahami melalui anggapan dasar (otonosi) dan metode ilmu alam yang dilihat bahwa sebagai manusia tidak kreatif dalam berfikir dan bertindak. Untuk membandingkan antara ilmu sosial positif dan ilmu sosial kritis, paling tidak terdapat empat pokok perbedaan:&lt;br /&gt;1. &lt;a href="http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/1pandangan-terhadap-hakekat-manusia-dan.html"&gt;Perbedaan dalam melihat hakekat manusia dan masyarakat.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;a href="http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/2-penciptaan-ilmu-pengetahuan-sosial.html"&gt;Pemahaman terhadap proses-proses sosial.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/3-bentuk-ilmu-pengetahuan-ilmiah.html"&gt;Bentuk penjelasan ilmiah tentang proses-proses sosial yang dilakukan&lt;/a&gt; dan&lt;br /&gt;4. &lt;a href="http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2008/01/4peranan-ilmuwan-ilmuwan-sosial.html"&gt;Peranan ilmuwan-ilmuwan sosial&lt;/a&gt; (Sewart, 1978).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-8988298394699189802?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/8988298394699189802/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/beberapa-perbedaan-antara-ilmu-sosial.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/8988298394699189802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/8988298394699189802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/beberapa-perbedaan-antara-ilmu-sosial.html' title='Beberapa Perbedaan antara ilmu sosial kritik dan dan ilmu sosial positif'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1259934912742149234.post-6406009546544962834</id><published>2008-01-17T03:19:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T13:25:37.706-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset Kritis'/><title type='text'>Pandangan terhadap hakekat manusia dan masyarakat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ilmu sosial positif melihat masyarakat sebagai fenomena obyektif yang dapat dideskripsikan sebagai seperangkat kekuatan yang tidak mengenal sejarah (ahistoris). Ilmu sosial kritik, dilain pihak memandang masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang dapat dibangun kemanusiaannya melalui pemahaman historis progressive terhadap proses-proses dan struktur-struktur sosialnya. Ilmu sosial positif melihat hakekat manusia sebagai data mati (tidak bergerak), sedang ilmu sosial kritis melihat bahwa manusia dapat merubah diri mereka sendiri melalui pranata-pranata yang diciptakan sendiri. Oleh karena pandangan ilmu sosial positif yang demikian maka Barry Smart (1976) menyebut pandangan tadi sebagai "kenyataan semu" dan karena itu dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada masyarakat kapitalis, ilmu-ilmu sosial positif dikembangkan dengan cara mengasingkan individu-individu dalam proses penciptaan sejarah dan karena itu ilmu sosial positif gagal sama sekali dalam menganalisa masyarakat sebagai sebuah bangunan kemanusiaan. Karena kegagalannya melihat proses-proses dan struktur-struktur sosial maka ilmu sosial positif tidak dapat banyak diharapkan dapat melakukan perubahan secara fundamental. (Horkheimer, 1972).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu sosial kritis justru melihat manusia sebagai pembentuk sejarah. Bukan ilmu sosial kritis kalau dia hanya mampu mendiskripsikan fakta-fakta sosial sejarah, tanpa pemahaman dan aksi bersama rakyat. Horkheimer menulis "teori sosial kritis dimana melihat manusia sebagai pencipta sejarah mereka sendiri". (1972 :244). Perbedaan pandangan antara ilmu sosial positif dan kritis terhadap hakekat manusia dan masyarakat itu mempunyai pengaruh mendalam dalam melihat bagaimana ilmu pengetahuan sosial diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;iframe name="mashlogic" style="border: 0pt none ; margin: 0pt; padding: 0pt; overflow: hidden; display: none; z-index: 9999; position: absolute; top: auto; right: auto; bottom: auto; left: auto;" id="mashlogic" src="about:blank" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1259934912742149234-6406009546544962834?l=rakyatberdaulat.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/feeds/6406009546544962834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/1pandangan-terhadap-hakekat-manusia-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6406009546544962834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1259934912742149234/posts/default/6406009546544962834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rakyatberdaulat.blogspot.com/2009/07/1pandangan-terhadap-hakekat-manusia-dan.html' title='Pandangan terhadap hakekat manusia dan masyarakat'/><author><name>Admin AT</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01485507779881334578</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_pbJRAOhS7x0/SGey2p7ORII/AAAAAAAABlM/y5yNACwsDiY/S220/Exxon+Moi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
