Ada tifa hukum fundamental dari logika formal. Pertama dan yang paling penting adalah Hukum identitas. Hukum ini bisa nyata¬kan dalm berbagai cara seperti: Suatu benda selalu sama atau identik dengan dirinya. dalam istilah aljabar: A sama dengan A.
Formulasi khusus dari hukum ini tak begitu penting sewaktu ide terlibat. Pemikran asensual tecakup dalam hukum identitias. Mengatakan bahwa suatu benda selalu sama terhadap dirinya adalah sama juga menilai bahwa dibawag semua kondidi ia tetap satu dan sama. Suatu benda yang ada berada secara absolut pada setiap momen yang ada. Seperti ahli fisis katakan: "Materi tak bisa diciptakan dan dihancurkan," contohnya, materi selalu menjadi materi.
Penilaian yang tak kondisional i dari hukukm identitas absolut dari suatu benda dengan dirinya sendiri menimbulkan perbedaan dari sesnsi benda benda dan pikiran. Bila suatu benda selalu dan dalam semua kondisi sama arau identik dengan dirinya, tak pernah bisa tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan ini mengambil secra logis dan tak terhindarkan dari hukum iden¬titas. Bila A selalu sama dengan A, tak bisa pernah sama dengan non A.
Kesimpulan ini dibuat eksplisit dalam hukum kedua dari logika formal : Hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan: A adalah bukan non A. Ini tak lebih dari formulasi negatif dari penilaian positif yang dinyakan dalam yang pertama hukum logika formal. Bila A adalah A, berikutnya, menurut pemiran formal, bahwa A tak bisa menjadi non A. Jadi Hukum logika formal kedua, hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial bagi hukum yang pertama.
Beberapa contoh: seorang manusia tak bisa menjadi bukan manusia; Demokrasi tak bisa menjadi tidak demokrasi; seorang buruh tak bisa menjadi seorang buruh.
hukum kontradiksi menyiratkan hasil perbedaan dari esensi benda benda dan pikiran tentang benda benda. Bila A selalu perlu identik dengan dirinya, tak bisa berbeda dari dirinya. Perbedaan dan persamaam adalah, menurut dua aturan logika ini, berbeda sekali, benar benar tak berhubungan, karakter ekslusif saling menunjang dari baik benda benda maupun pikiran pikiran.
Kwalitas ekslusif saling menunjang dari benda benda hukum pertukaran nilai nilai persamaan membentuk fondasi dari masyara¬kat pemroduksi komoditi.
Ijinkan saku menempatkan suatu contoh menarik dari jenis pemikiran ini berasal dari tulisan tulisan Aristoteles. di dalam Posterior Abalytics (Buku I; bab 33, hal, 158), Aristoteles berkata bahwa seorang tak bisa secara simultan memahaminya, bahwa manusia secara esensial adalah binatang and kedua, bahwa manusia secara esensial bukan binatang, itulah, meungkin menganggap bahwa dia lain daripada binatang. Begitulah, seorang manusia secara esensial soerang manusia dan tak pernah bisa atau berpikir trak menjadi seorang manusia.
Ini pasti tentulah menurut diktat dari hukum logika for¬mal. Kini kita semua tahu ternyata bertentangan dengan fakta. Teori evolusi alam mengajarkan bahwa manusia secara esensial adalah binatang dan tak bisa lain daripada binatang. Secara logis berbicara, manusia adalah seekor binatang. Namun kita tahu juga dari teori evousi sosial, yang merupakan kelanjutan dan perkem¬bangan dari evolusi binatan g secara murni, bahwa manusia tak lebih dari dan lain dari seoerkor binatang.
Dengan kata lain, dia secara esensial bukan seekor binatang melainkan manusia, yang merupakan spesies mkhluk hidup yang sangat berbed dari semua binatang lainnya. Kitam dan kita tahu bahwa kita, dua benda ekslusif yang saling bergantung pada satu dan saat yang sma, Aristoteles dan hukump hukum secara ekspresif adalah catatan yang diambil dari dalam hukum ketiga dari logika formal. Ini adalah hukum pertengahan khusus. Menurut hukum ini, setiap benda adalaj dam pasti juga salah satu dari dua benda benda ekslusif. Bila A sama dengan A, ia tak bisa sama dengan non A. A tak bisa jadi bagain dari dua klas yang berlawanan pada satu atau saat yang sama. Dimana saja dua pernyataan yang saling belrlawanan atau hubungan bermusuhan satu sama lain, baik itu mungkin benar atau juga salah. A adalah juga B atau ia bukan B. Kebenatran dari suatu pendapat meniratkan keidakbenaran kebalikannya.
Hukum ketiga ini adalah suatu kombinasi dari dua pertama dan mengalir secara logis dari mereka.Ketiga hukum ini merupakan basis dari logika formal. Semua jawabanjawaban formal dihasilkan dari aturan dari proposisi proposisi ini. Selama dua ratus tahun mereka merupakan aksioma tak terbantahkan dari sistim pikiran Aristoteles, hanya sebagai
logika formal sebaliknya tak kokoh berdiri.
Blogged with the Flock Browser
Post a Comment