Pada tulisan sebelumnya kita telah mencatat arti penting dari filsafat Marxis sebagai alat memahami kondisi obyektif yang eksploitatif dari kapitalisme dan sebagai "senjata spiritual" bagi proletariat dalam perjuangan mereka menentang kapitalisme dan demi sosialisme. Kita dapat memperdalam pengertian ini, pengertian tentang signifikansi revolusioner dari filsafat Marxis dengan mengamati bagaimana filsafat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menggabungkan filsafat dengan ilmu. Ilmu berbeda dari filsafat karena ilmu hanya memberikan pengetahuan tentang wilayah khusus dari alam atau masyarakat, sementara filsafat berusaha memberikan gambaran menyeluruh dari hukum-hukum alam, masyarakat dan pikiran. Ilmu, yang menggunakan metode investigasi yang empiris dan teoretis, mempelajari bidang tertentu seperti biologi, fisika, sejarah dan antropologi. Ilmu mengambil kesimpulan langsung dari penyelidikan terhadap alam dan masyarakat, dan menguji kebenaran kesimpulan ini melalui praktek dan bukan hanya "dalam pikiran".
Sumbangan yang beragam dari para ilmuwan dan filsuf terhadap pengetahuan manusia dapat segera dilihat dengan membandingkan ilmuwan seperti Galileo, Newton, Darwin dan Einstein dengan filsuf macam Plato, Thomas Aquinas dan Hegel. Namun, terlepas dari pembedaan di antara kedua bidang ini, juga ada hubungan yang sangat erat. Dalam hubungan ini filsafat melingkupi pengetahuan tertentu yang diperoleh dari ilmu ke dalam pandangan dunia dan metodologi yang lengkap, dan dengan begitu menyediakan kerangka teoretis yang umum demi kemajuan ilmu. Jika hubungan ini dikacaukan pada salah satu sisi, maka kesalahan fatal adalah akibatnya. Tidak ada orang yang memahami hubungan antara ilmu dan filsafat lebih ketat daripada Marx, yang pada saat bersamaan adalah seorang ilmuwan sosial yang cemerlang sekaligus filsuf revolusioner. Marx sekaligus menghasilkan ilmu sejarah dan masyarakat serta filsafat yang merangkum hukum-hukum paling umum dari ilmu ini. Seperti telah kita catat, cara pandang dari mayarakat primi¬tif terutama berlandaskan pada mitologi karena pengetahuan ilmiah tentang dunia pada saat itu masih bersifat minim. Secara bertahap, saat pengetahuan ilmiah makin mendalam, masyarakat mulai berpaling dari mitologi. Namun, mistisisme terus merupakan kekua¬tan dominan dalam cara pandang masyarakat perbudakan dan feodal.
Dalam mistisisme dunia dijelaskan sebagai hasil kerja kekuatan spiritual, seperti dewa matahari, bulan, raja laut, dan seterusnya. Jadi, sebelum ilmu itu ada, yang ada itu filsafat. Karena itulah, untuk jangka waktu yang lama filsafat dianggap sebagai "ilmu dari semua ilmu", yang mencakup semua bidang pengetahuan manusia dan bisa memberikan tuntunan dengan mengacu pada "prinsip pertama". Ketika muncul kemajuan ilmu yang hasilnya menentang filsafat yang ada, maka sering terjadi pertentangan tajam, misalnya dalam kasus Galileo, yang kemajuan ilmiahnya dalam memahami bumi dan alam semesta bertentangan dengan cara pandang Katolik.
Perkembangan kapitalisme, bagaimanapun menjadi landasan bagi kemajuan-kemajuan yang dahsyat dalam bidang ilmu. Pengembangan kekuatan produksi memungkinkan manusia mendapat pengetahuan ilmiah yang lebih besar tentang alam dan kemanusiaan.
Terlepas dari semua kemajuan ilmu yang dicapai oleh kaum borjuis, filsafat borjuis secara umum menghadirkan ilmu dan filsafat sebagai dua hal yang berdiri terpisah. Misalnya, sekalipun para ilmuwan borjuis dituntut mencari fakta-fakta obyektif dalam kerja ilmiah mereka untuk menghasilkan sesuatu, pandangan filsafat mereka kadang sangat kentara masih diselubungi mistisisme (kepercayaan terhadap dukun, kekuatan spiritual, dan sebagainya). Lebih lanjut, filsuf borjuis terus menghasilkan karya-karya abstrak (tentang sejarah, politik, etika, logika formal, dan seterusnya) yang gagal menjelaskan sesuatu atau juga bertentangan dengan penemuan ilmu modern. Banyak kekeliruan mendasar yang muncul karena adanya pemisahan antara filsafat dan ilmu oleh kaum bor¬juis. Secara khusus, kita temukan dominasi pragmatisme yang menyatakan bahwa filsafat yang menyeluruh itu tidak diperlukan dan bahwa pengetahuan manusia hanya perlu dilandaskan pada akumu¬lasi (pengumpulan) fakta-fakta ilmiah yang makin banyak; kebutu¬han akan tinjauan umum terhadap realitas sama sekali diabaikan.
Di pihak lain, kita menghadapi masalah dogmatisme yang melandas¬kan diri pada "filsafat" tapi tidak didukung oleh pembuktian ilmiah. Kedua kecenderungan ini senantiasa gagal menjelaskan realitas secara utuh --sebuah proses yang memerlukan pemahaman tentang hubungan yang tepat, dan membuat filsafat bergantung pada penyelidikan ilmiah serta menggunakan kerangka yang disediakan filsafat untuk mengarahkan dan membimbing penyelidikan.
Inilah yang dicapai Marxisme dan menghasilkan revolusi dalam filsafat dengan mengubah hubungannya terhadap ilmu. Ini adalah revolusi yang sangat penting, yang digambarkan Engels sebagai "akhir dari semua filsafat dalam pengertian yang diterima sampai sekarang ini." Marx membuat filsafat bergantung pada ilmu, dengan begitu mematahkan praktek lama dari semua filsuf spekulatif yang mencoba menempatkan filsafat mereka di atas ilmu. Buktinya adalah ekonomi politik Marx, yaitu ilmu yang disusun dari penyelidikan empiris dan teoretik tentang ekonomi kapitalis. Dari ilmu ini, Marx menarik kesimpulan umum tentang masyarakat yang kemudian menghasilkan rumusan tentang hukum-hukum gerak masyarakat manu¬sia, atau juga dikenal dengan nama materialisme historis. Pada saat bersamaan, materialisme historis menerapkan prinsip-prinsip umum dari materialisme dialektis kepada masyarakat manusia. Tapi titik berangkatnya tetap investigasi langsung terhadap kenyataan.
Materialisme dialektis harus dipahami sebagai tinjauan umum terhadap hukum-hukum gerak yang nyata di dunia. Jelas bahwa pemahaman terhadap hukum-hukum ini akan memudahkan kemajuan kerja ilmiah, tapi hukum-hukum itu sendiri tidak dapat menciptakan pengetahuan baru tanpa diterapkan dalam bidang ilmu tertentu.
Filsafat Marxis dengan begitu bersandar pada ilmu, membuat kesimpulan dari ilmu dan memasukkannya ke dalam cara pandang dunia dan metodologi yang konsisten. Filsafat Marxis sudah me¬ninggalkan filsafat dalam pengertian spekulatif. Tidak ada lagi filsafat alam yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu alam. Hukum-hukum paling umum dari ilmu alam diungkapkan dalam materialisme dialektis. Tidak ada lagi filsafat sosial, yang berdiri di atas ilmu, tapi yang ada adalah ilmu sosial (Marxisme-Leninisme). Hukum-hukum paling umum dari ilmu sosial diungkapkan dalam materialisme historis.
Post a Comment