Filasafat dan Kelas Bagian II

Filsafat dari semua masyarakat sampai sekarang ini adalah refleksi intelektual terhadap kerangka kelas tertentu dan kondisi sosial. Misalnya, dalam masyarakat perbudakan pandangan sosial yang dominan adalah "warga" (citizen). Pandangan ini mengandung aspirasi dari kelas tertentu, yaitu kelas pemilik budak. Pandangan ini mengunggulkan individu untuk memiliki sesua-tu --tanah dan juga manusia dan untuk terlibat dalam kegiatan politik dan intelektual masyarakatnya. Karena itulah masyarakat perbudakan mengembangkan demokrasi hanya untuk para pemilik budak. Filsafat mereka menjadi kode etik bagi kelas pemilik budak. Sama halnya, filsafat yang dominan dalam zaman feodal dapat diartikan sebagai pembenaran terhadap hirarki feodal yang ketat. Terutama dikembangkan oleh gereja Katolik, cara pandang ini mengembangkan cara pandangan statis tentang tata susun ma¬syarakat. Tidak heran bahwa dalam cara pandang ini petani peng¬garap menempati urutan paling bawah sementara raja dan bangsawan lainnya ada di tingkat paling atas.

Ini bukan untuk mengatakan bahwa filsafat itu hanyalah akal-akalan penguasa untuk mengelabui mereka yang tertindas. Filsafat berakar dalam kondisi sosial yang nyata di setiap zaman dan karena itu selalu terbatas pada tingkat pengetahuan manusia.
Dalam periode sejarah manapun tidak akan mungkin dibuat analisis obyektif terhadap semua gejala alam dan gejala sosial, karena manusia tidak cukup pengetahuannya untuk memahami semua hal. Pada batas-batas kemampuan mereka menganalisis dunia, maka analisis ini diwarnai oleh kondisi kelas dan oleh cara berfungsinya ma¬syarakat selama ratusan dan bahkan ribuan tahun. Singkatnya, tiada pikiran di dunia ini yang terlepas dari kondisi sosial. Semua pikiran,dengan cara berbeda-beda jelas dipengaruhi kondisi sosial. Lebih lanjut, seluruh masyarakat tak pernah secara utuh dan lengkap disatukan di bawah satu filsafat tertentu.

Sering terjadi perdebatan filsafat di kalangan kelas penguasa sendiri, dan juga di antara kelas-kelas. Dalam masyarakat perbudakan, misaln¬ya, debat filsafat muncul antara sayap progresif dan reaksioner dari kelas penguasa. Plato mengungkapkan kepentingan dari aris¬tokrat pemilik budak yang reaksioner menentang pandangan dialek¬tis, yang materialis tapi primitif dari Demokritus dan Herakli¬tus. Di pihak lain, Aristotle berulangkali mengkritik teori-teori idealis dari Plato dan menjunjung pendekatan yang lebih materialis untuk memahami dunia. Jadi, sekalipun kedua alur pikiran ini berakar pada kelas pemilik budak, keduanya tidak mengembangkan cara pandang filsafat yang sama.
Ketika kaum borjuis muncul menentang kekuasaan feodal, mereka dipersenjatai dengan filsafat baru. Cara pandang borjuis mengutamakan kebebasan individu, dengan mengatakan bahwa tidak ada orang yang sudah terikat pada nasib, tapi sebaliknya setiap orang dapat bekerja sesuai keinginannya untuk maju. Perkembangan ini tercermin secara religius dalam debat antara Katolisisme dan Protestanisme. Sebenarnya, cara pandang Protestan adalah kebutu¬han kaum borjuasi untuk mematahkan pembatasan-pembatasan yang dibuat oleh feodalisme, agar bebas membuat barang, agar bebas memasuki pasar dan mengambil keuntungan.

Para pemikir abad Pencerahan (Eropa abad 18) adalah filsuf-filsuf borjuis. Mereka menulis tentang pentingnya "kebebasan" dan "kemerdekaan" dari sudut pandang ekonomi, politik dan intelektu¬al. Para pemikir ini juga menjunjung tinggi kekuatan akal yang begitu besar dari manusia. Mereka memandang pikiran manusia sebagai kekuatan besar, yang sanggup membawa perubahan di dunia. Tetapi, walaupun pemikir Abad Pencerahan ini, seperti Voltaire, Diderot dan Hegel mengembangkan pengertian tentang pentingnya "kebebasan", "kemerdekaan", dan "akal", filsafat mereka juga harus dilihat dalam konteks aspirasi borjuis. Seruan akan kebeba¬san diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dari kelas feodal yang membuat sebagian besar penduduk --dan khususnya kaum borjuis sendiri-- terikat secara ekonomi dan politik. Mereka memajukan akal sebagai bagian dari proses mengkritik dan menggerogoti batasan-batasan ekonomi, politik dan intelektual yang dihasilkan keterbelakangan feodalisme.

Jelas bahwa filsafat senantiasa harus ditempatkan dalam konteks sosial dan kondisi kelas. Walaupun bayangan kita tentang filsafat itu sebagai sesuatu yang seakan lepas dari kenyataan, kita harus tahu bahwa filsafat hanya dapat dimengerti sebagai sesuatu yang sangat erat ikatannya dengan kondisi kongkret. Lebih lanjut, sejarah pertentangan filsafat bukan hanya debat antara gagasan-gagasan yang mengasyikkan, tapi cerminan dari pertentan¬gan kelas dan kondisi kelas. Seperti kita lihat, kelas-kelas yang tertindas dalam masyarakat tertentu sering mengembangkan cara pandang yang menentang filsafat penguasa contohnya, pikiran kaum borjuis yang muncul menentang tata susun feodal. Sama halnya, filsafat Marxisme-Leninisme adalah bagian dari pertentangan kelas pada masa sekarang. Materialisme dialektis dirumuskan dalam periode mana kontradiksi dan ketidakmampuan cara produksi kapitalis menjadi jelas. Filsuf borjuis, dengan seruan mereka tentang "kebebasan" dan "kemerdekaan" tak lagi memainkan peran revolusioner dan tak dapat menjelaskan kegagalan dari cara produksi yang baru itu.Filsafat borjuis mengunggulkan kebebasan individu untuk terlibat dalam produksi, pertukaran dan penghisa¬pan hasil kerja orang lain; dan dengan begitu memberikan alasan dasar bagi kapitalisme. Titik berangkat dari filsafat Marxis adalah melihat kenyataan real dan material sebagai hal utama dan memahami bahwa masyarakat manusia, gagasan dan nilai berangkat dari kondisi material tsb. Dengan begini, filsafat Marxis dapat membuka selubung yang menutupi realitas obyektif dari penindasan dan penghisapan kapitalis. Tapi filsafat Marxis juga berbicara untuk kelas tertentu --proletariat. Filsafat Marxis menyediakan alat untuk mengenali proletariat sebagai obyek dari penindasan kapitalis, dan dengan begitu mendukung perjuangan proletariat menentang penindasan. Lebih lanjut, filsafat Marxis tidak memberikan pandangan yang statis tentang dunia, seperti yang dilakukan oleh filsafat dari zaman feodal dan perbudakan. Salah satu unsur kunci dari filsafat Marxis adalah mengenali perubahan dan pertentangan di dunia, yaitu bahwa segala sesuatu senantiasa bergerak dan bahwa kontra¬diksi dapat dipecahkan sehingga manusia dapat bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan begitu, filsafat Marxis membantu menge¬nali proletariat bukan hanya sebagai korban dari penindasan kapitalis, tapi juga sebagai agen perubahan. Bersandar pada kenyataan bahwa proletariat sebagai kelas bertanggungjawab pada keseluruhan produksi, filsafat Marxis melihat kelas ini sebagai kekuatan yang dapat menghancurkan tata kapitalis dan menghadirkan cara produksi yang baru (sosialisme) di dunia.

Print
0 Responses So far

Post a Comment