
Ernesto Guevara
14 Juni 1928 Ernesto Guevara lahir dikota Rosario, Argentina, dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna; dia menjadi anak pertama dari lima bersaudara. Keluarga Guevara pindah ke Buenos Aires. Ernesto Guevara belajar di sekolah kedokteran di Buenos Aires.
Januari-Juli 1953 Mengunjungi Peru, Kolombia dan Venezuela; di Peru bekerja di koloni penderita Kusta.
10 Maret 1952 Fulgencio Batista melakukan kudeta di Kuba. Maret 1953 Guevara menerima gelar dokter medis.
26 Juli 1953 Fidel Castro memimpin penyerangan ke Garnisun Moncada di Santiago de Cuba, melancarkan perjuangan bersenjata revolusioner menentang Batista; serangan mengalami kegagalan dan tentara Batista membantai lebih dari lima puluh pejuang yang tertangkap; Castro dan lainnya yang hidup kemudian ditangkap dan dipenjarakan.
Setelah menerima gelar sarjana kedokteran, Guevara melakukan perjalanan ke seluruh Amerika Latin; mengunjungi Bolivia, disana ia mempelajari impak revolusi 1952. 24 Desember 1953 Sampai di Guatemala, yang berada dibawah pemerintahan Jacobs Arbens.
catatan sejarah panjang tersebut hingga kini masih menjadi bahan bacaan menarik bagi para aktivis gerakan dibelahan dunia.
bagi yang menyukai cerita panjang kehidupan tokoh revolusioner ini silahkan klik beberapa judul dibawah ini untuk mendownload dalam versi bahasa indonesia
Ilmu Pengetahuan boleh jadi merupakan tenaga terkuat yang pernah dilihat umat manusia. Sebegitu kuatnya hingga ia adalah bukan apa-apa dibanding dengan potensi yang dimilikinya.
Dimasa mendatang, peramalan kita akan kebesaran dan kekuatan yang dimiliki ilmu pengetahuan ternyata merupakan usaha sia-sia yang sangat memilukan dan memalukan. Kekuatan dasyhat ilmu pengetahuan justru malah sangat membahayakan, khususnya bila digunakan oleh mahluk serakah, irasional dan kompulsif dengan penunjang peradaban yang tidak memadai seperti manusia. Hal itu sama saja seperti seekor monyet yang menemukan pistol yang berisikan peluru.
Ilmu pengetahuanpun telah melalui perjalanan panjang. Ia harus berjalan menghadapi cobaan berat dari kekuatan-kekuatan berwatak jahat yang masih ingin mempertahankan sisa-sisa kekuatan dan kehormatan mereka. Seperti anak jenius yang aneh, ia dikucilkan oleh yang lainnya bahkan didiskriminasi dan diolok. Tapi kita semua tahu bahwa dialah yang pada akhirnya justru menjadi pemenangnya.
Segala macam bentuk usaha manusia selalu didasarkan pada tujuan, tapi tujuan dan jalannya menuju tujuan tersebut selalu dipilih berdasarkan nilai dan keyakinan yang dimiliki. Perwujudan terhadap apa yang hendak dicapai yakni pendorong dari seluruh usaha sehingga tujuannya-pun merupakan nilai yang dianut oleh mereka. Nilai adalah hal yang sangat penting bagi manusia, karena nilai sesuatu hal yang memberi makna terhadap kehidupan yang dimiliki manusia, nilai adalah jiwa yang memberi perasaan kepada manusia bahwa dialah seorang manusia, nilai adalah esensi dari keberadaan manusia sendiri. Sehingga dalam segala macam upaya apapun jangan pernah kita kehilangan nilai, jangan pernah kita kehilangan jiwa tujuan manusia, jangan pernah kita hilang manusianya sendiri.
Ilmu pengetahuan dimulai dengan penuh sarat nilai, dengan penuh sarat tujuan yang amat mulia. Ia adalah perjuangan terhadap kebohongan, perjuangan terhadap pembebasan dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan, keacuhan dan kebohongan yang semuanya merupakan kejahatan akan hati nurani manusia sendiri. Dan ia harus melalui perjuangan yang amat berat, pengorbanan terhadap ribuan jiwa manusia, jiwa-jiwa yang ihlas berkorban demi keyakinan mereka, menghadapi ribuan jiwa yang melawan juga untuk keyakinan mereka. Memang semuanya tidak segampang hitam putih, yang pasti dunia modern menganggap mereka yang berkoban demi ilmu pengetahuan sebagai pahlawan sementara mereka yang berjuang mengkritisi malah mendapat label sebagai penjahat. Jika perjalanan sejarah berkebalikan dengan sekarang sudah tentu anggapan di atas juga akan berbalik pula. Yang pasti ilmu pengetahuan waktu itu berjuang melawan kekuasaan lama yang sudah tua, sudah waktunya minggat. Toh tidak ada yang kekal kecuali Gusti diatas sana! Dan tentu wajar saja kekuatan tua itu melawan dan mempertahankan diri dalam keadaan menghadapi ajal sekalipun.
Setiap sistem terkandung nilai dan kepercayaan tersendiri. Semuanya boleh-boleh saja dan memang dibutuhkan agar sistem itu dapat berjalan seoptimal mungkin. Tapi jangan pernah lupa bahwa ada tujuan utama manusia yang paling luhur dengan nilai yang luhur pula, sebuah nilai universal yaitu nilai kemanusiaan, nilai yang menjadikan kita manusia. Adalah nilai tersebut dengan tujuannnya keseluruhan dari usaha manusia dituju. Adalah nilai itu dan tujuannya yang menjadi pencetus seluruh keyakinan yang muncul baik dimasa lampau, sekarang ini ataupun masa depan. Masalahnya dengan sistem yang memiliki tata nilai sendiri seperti yang telah berulang-ulang kali terjadi dalam sejarah, yaitu bahwa nilai-nilai sempit sistem itulah yang menggantikan nilai luhur manusia sehingga tujuannya pun menjadi tujuan egois system itu sendiri
Bagi sistem tersebut akhirnya hidup dan sadar bahwa ia mempunyai keinginan sendiri sehingga mengekploitasi bahkan memperbudak manusia yang merupakan pembuatanya untuk mencapai tujuan-tujuan egoisnya sendiri, ketika saat itu manusia untuk memulai sadar akan hal ini dan mencoba menghentikan sistem tersebut oleh sistem baru yang menawarkan pengembalian kejalan semula, yang pada akhirnya sistem baru tersebut kembali salah alur sehingga siklus akan berjalan ditempat, sebuah siklus yang tampaknya tidak pernah berhenti, bahawa terbesar suatu sistem adalah pendogmaan terhadap nilai-nilai sempit tiap keyakinan yang seharusnya bersifat sementara dan elastis terhadap perkembangan zaman.
ilmu pengetahuan telah begitu jauh keluar dari jalur aslinya, ilmu pengetahuan telah kehilangan makna bagi manusia ia telah begitu menjauh sehingga manusia telah merasa dekat dengan ilmu pengetahuan sendiri, sehingga kegunaannya telah hilang dan daya pikatnya mulai luntur, ilmu pengetahuan sekarang tidak pernah memberi manfaat terhadap manusia, ia pun tidak pernah lagi memberi jawaban kepada penciptaannya, hanyalah alasan ataupun menghentikan arah pembahasan yang sama-sama hampanya. ilmu pengetahuan adalah kekuatan yang amat sangat dahsyat sehingga untuk bermain-main tanpa tujuan sesungguhnya sangatlah berbahaya. ditambah ilmu pengetahuan kini justru digunakan oleh sistem-sistem yang lebih rakus dan jahat dengan tujuan picik mereka.
Read More......
Dimasa mendatang, peramalan kita akan kebesaran dan kekuatan yang dimiliki ilmu pengetahuan ternyata merupakan usaha sia-sia yang sangat memilukan dan memalukan. Kekuatan dasyhat ilmu pengetahuan justru malah sangat membahayakan, khususnya bila digunakan oleh mahluk serakah, irasional dan kompulsif dengan penunjang peradaban yang tidak memadai seperti manusia. Hal itu sama saja seperti seekor monyet yang menemukan pistol yang berisikan peluru.
Ilmu pengetahuanpun telah melalui perjalanan panjang. Ia harus berjalan menghadapi cobaan berat dari kekuatan-kekuatan berwatak jahat yang masih ingin mempertahankan sisa-sisa kekuatan dan kehormatan mereka. Seperti anak jenius yang aneh, ia dikucilkan oleh yang lainnya bahkan didiskriminasi dan diolok. Tapi kita semua tahu bahwa dialah yang pada akhirnya justru menjadi pemenangnya.
Segala macam bentuk usaha manusia selalu didasarkan pada tujuan, tapi tujuan dan jalannya menuju tujuan tersebut selalu dipilih berdasarkan nilai dan keyakinan yang dimiliki. Perwujudan terhadap apa yang hendak dicapai yakni pendorong dari seluruh usaha sehingga tujuannya-pun merupakan nilai yang dianut oleh mereka. Nilai adalah hal yang sangat penting bagi manusia, karena nilai sesuatu hal yang memberi makna terhadap kehidupan yang dimiliki manusia, nilai adalah jiwa yang memberi perasaan kepada manusia bahwa dialah seorang manusia, nilai adalah esensi dari keberadaan manusia sendiri. Sehingga dalam segala macam upaya apapun jangan pernah kita kehilangan nilai, jangan pernah kita kehilangan jiwa tujuan manusia, jangan pernah kita hilang manusianya sendiri.
Ilmu pengetahuan dimulai dengan penuh sarat nilai, dengan penuh sarat tujuan yang amat mulia. Ia adalah perjuangan terhadap kebohongan, perjuangan terhadap pembebasan dari belenggu kebodohan dan ketidaktahuan, keacuhan dan kebohongan yang semuanya merupakan kejahatan akan hati nurani manusia sendiri. Dan ia harus melalui perjuangan yang amat berat, pengorbanan terhadap ribuan jiwa manusia, jiwa-jiwa yang ihlas berkorban demi keyakinan mereka, menghadapi ribuan jiwa yang melawan juga untuk keyakinan mereka. Memang semuanya tidak segampang hitam putih, yang pasti dunia modern menganggap mereka yang berkoban demi ilmu pengetahuan sebagai pahlawan sementara mereka yang berjuang mengkritisi malah mendapat label sebagai penjahat. Jika perjalanan sejarah berkebalikan dengan sekarang sudah tentu anggapan di atas juga akan berbalik pula. Yang pasti ilmu pengetahuan waktu itu berjuang melawan kekuasaan lama yang sudah tua, sudah waktunya minggat. Toh tidak ada yang kekal kecuali Gusti diatas sana! Dan tentu wajar saja kekuatan tua itu melawan dan mempertahankan diri dalam keadaan menghadapi ajal sekalipun.
Setiap sistem terkandung nilai dan kepercayaan tersendiri. Semuanya boleh-boleh saja dan memang dibutuhkan agar sistem itu dapat berjalan seoptimal mungkin. Tapi jangan pernah lupa bahwa ada tujuan utama manusia yang paling luhur dengan nilai yang luhur pula, sebuah nilai universal yaitu nilai kemanusiaan, nilai yang menjadikan kita manusia. Adalah nilai tersebut dengan tujuannnya keseluruhan dari usaha manusia dituju. Adalah nilai itu dan tujuannya yang menjadi pencetus seluruh keyakinan yang muncul baik dimasa lampau, sekarang ini ataupun masa depan. Masalahnya dengan sistem yang memiliki tata nilai sendiri seperti yang telah berulang-ulang kali terjadi dalam sejarah, yaitu bahwa nilai-nilai sempit sistem itulah yang menggantikan nilai luhur manusia sehingga tujuannya pun menjadi tujuan egois system itu sendiri
Bagi sistem tersebut akhirnya hidup dan sadar bahwa ia mempunyai keinginan sendiri sehingga mengekploitasi bahkan memperbudak manusia yang merupakan pembuatanya untuk mencapai tujuan-tujuan egoisnya sendiri, ketika saat itu manusia untuk memulai sadar akan hal ini dan mencoba menghentikan sistem tersebut oleh sistem baru yang menawarkan pengembalian kejalan semula, yang pada akhirnya sistem baru tersebut kembali salah alur sehingga siklus akan berjalan ditempat, sebuah siklus yang tampaknya tidak pernah berhenti, bahawa terbesar suatu sistem adalah pendogmaan terhadap nilai-nilai sempit tiap keyakinan yang seharusnya bersifat sementara dan elastis terhadap perkembangan zaman.
ilmu pengetahuan telah begitu jauh keluar dari jalur aslinya, ilmu pengetahuan telah kehilangan makna bagi manusia ia telah begitu menjauh sehingga manusia telah merasa dekat dengan ilmu pengetahuan sendiri, sehingga kegunaannya telah hilang dan daya pikatnya mulai luntur, ilmu pengetahuan sekarang tidak pernah memberi manfaat terhadap manusia, ia pun tidak pernah lagi memberi jawaban kepada penciptaannya, hanyalah alasan ataupun menghentikan arah pembahasan yang sama-sama hampanya. ilmu pengetahuan adalah kekuatan yang amat sangat dahsyat sehingga untuk bermain-main tanpa tujuan sesungguhnya sangatlah berbahaya. ditambah ilmu pengetahuan kini justru digunakan oleh sistem-sistem yang lebih rakus dan jahat dengan tujuan picik mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)
